Truk Bak Terbuka

Posted: 16 September 2009 in Arbiter

Hari Sabtu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Itulah saat paling dinanti saat sekolah, terutama kala ulangan umum catur wulan (UUCW) tiba. Sabtu yang dimaksud tentunya saat hari terakhir ujian itu. Waktunya untuk melepas segala beban yang selama dua minggu harus dipikul. Meluapkan sejenak kebahagiaan meskipun tak pernah tahu berapa hasilnya nanti. Tak peduli…:)

Sungguh membahagiakan mengingat saat seperti itu. Tak ada duka terpampang di setiap wajah mereka yang “merasa” telah melakukan hal besar ini. Hanya ada satu kata: hepi! Layak untuk dirayakan dengan gembira meskipun modal cekak. Malah bukan cekak lagi, harus ditambahi bumbu nekad untuk dapat merayakannya. Tak mungkin kegembiraan itu bisa tergapai tanpa kenekadan karena hanya itu satu-satunya kekayaan.

Bel tanda ulangan terakhir di catur wulan tersebut berdentang keras, semua langsung berhamburan. Apalagi kalau bukan merencanakan “pesta” untuk mengobati “kerangkeng” selama dua minggu itu. “Kerangkeng” bernama belajar karena waktu bermain harus disisihkan agar perjuangan selama satu cawu tak sia-sia. Memang itu kewajiban, tak bisa ditawar lagi.

Masing-masing kelompok merencakan kegiatan ini dan itu sepulang sekolah. Tentu saja, kaos bebas sudah dipersiapkan dari rumah sebelumnya demi menyambut haari bahagia itu. Ya, satu hari yang bisa bermakna kebebasan dari tekanan rutinitas bernama UUCW selama dua minggu. Mereka sebenarnya hanya merencanakan tempat untuk dikunjungi dalam waktu amat singkat. Kesana atau kemari, itu saja.

Rencana “besar” itu pada dasarnya hanyalah buah dari kenekadan. Modalitas untuk melaksanakan rencana itu pada dasarnya mendekati limit nol, hampir nihil. Recehan sisa uang saku dikumpulkan dan dihitung dengan seksama, berapa jumlahnya. Biaya perjalanan untuk pulang dan tiket masuk jadi prioritas utama. Untuk pergi ke tempat tujuan cukup dianggarkan sekali saja, tak perlu saat pulang yang membutuhkan anggaran ganda. Namun, jangan pernah membayangkan  di sana nantinya akan beli kue apa, itu amat sangat terlalu jauh.

Otak diputar keras, akal dipakai dengan seksama, dan tubuh pun dieksploitasi. Truk-truk yang menuju ke kota adalah sasaran utama tumpangan. Hanya dengan modal jempol dan lambaian saja, berharap sang sopir berbaik hati memberi tumpangan di bak terbukanya. Memang, resiko harus ditempuh, tapi sebenarnya sangat mengasyikan. Canda-tawa bertebaran di dalam bak truk sambil tetap menghitung anggaran yang ada, apa cukup kiranya?:)

Selokambang. Tempat berhawa dingin dengan pemandian alamnya jadi sasaran utama. Berpindah dari satu bak truk ke truk lainnya adalah prosesi wajib. Berharap ada tumpangan truk lagi dari kota menuju tujuan. Apa daya, modal tak ada, cukup sekedar bisa dipakai untuk pulang dan membayar tiket masuk.  Selebihnya, hanya bisa menatap dan memandang orang-orang bersuka-cita menikmati dinginnya air kolam. Namun, harapan tetap ada, menyala. Harapan agar saat pulang nanti mendapat tumpangan truk lagi seperti saat berangkat:D

Menceburkan diri di dalam dinginnya air kolam pemandian pun terlaksana. Penuh suka dan keceriaan, duka pun lenyap seketika. Bermain dari papan luncur pemandian, naik ke pesawat yang tak pernah terbang, atau menggoda cewek-cewek sebaya adalah bagian tak terpisah. Tertawa lepas, hanya itu saja. Ke-ria-an itu terus hadir meskipun modal sangat terbatas.  Lupakan dulu tahu petis atau menyewa ban untuk berenang, tak ada anggarannya.J

Berlama-lama menikmati keramaian dan lalu-lalang orang jadi kegiatan utama. Atau, beraksi di dalam kedalamaan air dengan atraksi-atraksi akrobatik saat masuk ke dalam air pemandian. Sungguh, betapa menyenangkan walau lapar menghentak. Semuanya dilupakan untuk menyambut kebahagiaan empat bulanan ini.

Pulang. Berhitung pun tetap dilakukan. Kendaraan umum yang lewat di depan mata untuk sementara diacuhkan. Menunggu ada pak sopir baik hati yang mau memberi tumpangan di atas bak terbuka truknya. Hitung-hitung untuk sekedar berhemat agar ada sisa buat sedikit mengganjal perut saat tiba di kota nantinya. Lambaian kepada truk-truk yang sedang melintas tak pernah absen, penuh harap dan cemas tapi tetap berusaha.

Sepenggal kisah menyisakan moment-moment indah tak terlupakan. Bersama mengayuh kegembiraan diantara keterbatasan remaja-remaja tanggung yang sedang berusaha mencari jati diri. Melupakan sejenak beban berat pasca UUCW walaupun tak pernah tahu berapa nanti hasilnya, memuaskan atau tidak. Tak peduli dengan nilai untuk sementara meski setelah it uterus dihantui bayang-bayang hasil ujian. Berapa nilai rapor ku nanti?

*Pengalaman saat mendekam di kelas III B SMPN 1 Tempeh:’)*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s