“Menikmati” Macet…Aaarrrgghhh

Posted: 16 September 2009 in Arbiter

Hujan deras memaksa harus menunda untuk segera pulang. Barangkali hujan akan reda. Menunggu dengan segelas kopi dipinggir jalan, sungguh menyenangkan. Apalagi sebatang rokok ditangan menemani dengan riang. Sesekali juga menatap kereta listrik yang melintas tepat di depan.

Hujan tak reda-reda, tapi berangsur menurun intensitasnya. Ku putuskan untuk menjalankan tunggangan besi dengan ditemani rintik hujan. Basah dan basah, tapi tak parah. Kulanjutkan laju tunggangan hingga Pancoran. Berteduh sejenak dirumah sanak sambil mengambil sesuatu.

Jam dinding menunjukkan pukul 18.30 WIB. Ku putuskan segera beranjak, hangatnya kamar sudah menunggu. Melewati Jalan Gatot Subroto, aku disambut macet. Biasa, perangai Ibukota yang tak pernah berubah. Namun, tak sulit untuk lolos dari jebakan ini karena masih ada ruang motor melaju. Jalan menuju Kebayoran Baru dari Gatot Subroto lempang. Hatiku gembira karena ini bukan hal biasa dikala jam seperti ini.

Motor melaju tak terhadang, rasa ceria menghampiri. Perempatan Bulungan, depan Sekretariat ASEAN, pun tiba. Macet. Itulah jawaban saat perempatan ku lalui. Tak ada kata lain yang bisa mewakili seluruh kepenatan. Rasa ceria berubah seketika, berbalik 180 derajat. “Mungkin hanya ada sedikit gangguan di pertigaan (bekas) Pasar Barito,” gumamku dalam hati.

Namun, tunggangan masih malas bergerak. Tak ada sedikit ruang untuk menyisir jalanan seperti biasa. Di depan RS Pusat Pertamina, kemacetan menjadi. Aku pun hanya bisa menunggu sembari menepikan hati. Tak elok mengumbar amarah dikala seperti ini. “Ini kapan sampainya,” ujar seorang perempuah separuh baya yang sedang dibonceng, mungkin, suaminya.

“Kesempatan” berhenti ini kumanfaatkan untuk bercerita pada kawan di Surabaya. Tentu saja, lewat pesan pendek beberapa kali. Aku bercerita tentang ke-rengat-an yang sedang terjadi. Ditambah lagi dengan keadaan macet yang membunuh. “km c wkt tuhan bagi2 sayap gak dateng!” ujar kawan itu dalam pesan pendeknya (pingin terjun ke jurang saja kalau begini:D).

Akal pun mulai ku siasati. Pengalaman-pengalaman nyasar kumanfaatkan. Barangkali bisa menerobos kemacetan dengan melintasi jalan tikus. Bujubunenggg…ternyata macet masih merindukanku. Tetap saja terjebak meski telah berupaya mencari jalan lain. Akhirnya hanya bisa bersabar, cukup.

Saat berjuang menembus kemacetan, ku temukan tempat kosong un tuk sejenak melepas penat. Rokok ditangan menemani, tak meminta belas kasih seperti halnya macet. Sembari menunggu macet mencair, kusempatan untuk mengobrol sejenak dengan sejawat. Orang-orang yang sedang “menikmati” kemacetan juga. Setengah jam lebih kutenangkan diri sejenak sambil nyambi nulis catatan ini.

Setelah bosan menunggu tanpa kepastian, ku putuskan un tuk segera hengkang. Begitu pula dengan sejawat, juga memutuskan pergi dari keterasingan itu. Namun, ketakutan masih saja muncul dibenak. Tentu saja, sang dewa kemacetan karena terowongan yang terkena banjir itu (penyebab kemacetan) akan ku lewati. Bagaimanapun juga harus dihindari. Terus mencari siasat memecah ketakutan.

Jam menunjukkan angka pukul 20.30 WIB, pintu kamar menyambut riang. Akhirnya tiba juga di tujuan yang kuperebutkan sedari tadi dengan jalanan. Gerobak nasi goreng menyapa ramah. Rasa lapar bangkit menghentak lambung dan usus-ususku. Sungguh nikmat menjejal nasi goreng setelah sekian jam bertarung dengan debu jalanan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s