MARI MENYANYI “GENJER-GENJER”

Posted: 16 September 2009 in Sosial-Budaya

Semasa kecil aku sering “didongengi” cerita masa kecil Bapakku. Cerita masa kanak-kanak yang didalamnya berisi pengalaman hidup tatkala beliau seusiaku. Banyak kisah tercurah, tentu saja sebatas pengalaman diri yang cukup sempit karena bukanlah dongeng besar dan merasuk pada diri tiap orang. Hanya penggalan masa lalu, sekedar romantika yang mengurai zaman dan tak pernah ku alami sebelumnya. Bertutur sebatas kejadian sehari-hari yang dibatasi tembok sempit keluguan anak desa dengan segala keterbatasannya.

Salah satu cerita yang pernah disampaikan adalah tentang keberadaan sebuah nyanyian rakyat. Nyanyian yang pernah melegenda untuk ukuran zamaan itu, “Genjer-Genjer.” Bapakku mengenal lagu itu karena “tuntutan” zaman, jadi hits sehingga banyak  dinyanyikan orang di manapun berada. Perkenalan dengan nyanyian itu,  kata Bapakku, kala masa Sekolah Dasar. Diajari oleh salah seorang guru di sekolahnya yang juga bernasib sama seperti nyanyian “genjer-genjer” itu sendiri. Menjadi korban kebrutalan rezim fasis-militeristik Suharto (maaf, saya tak akan pernah pakai istilah orde baru karena menandakan persetujuan adanya pembagian zaman ala Suharto).

Meski banyak cerita tentang nyanyian itu, aku tak pernah sebait pun mendengarkannya. Lirik-liriknya di zaman “keemasan” Suharto merupakan barang haram yang tak boleh didengar oleh kuping siapa pun.  Termasuk anak-anak seusiaku yang haus akan cerita masa lalu dari para orang tua mereka. Hanya bercerita bahwa dirinya dan kawan-kawannya saat masih sekolah pernah diajari nyanyian itu. Cukup itu saja. paman dan bibi juga tak ketinggalan bercerita tentang nyanyian itu. Namun tetap sama saja, kelam. Tak pernah tuntas karena represi yang telah menghegemoni hingga ke tulang rusuk.

Suharto pun jatuh pada 1998. Namun nyanyiaan itu masih saja bersembunyi dibalik tembok tebal ketakutan akan kekejaman. Aku pun tetap saja, hanya tahu ada lagu yang pernah terkenal dan dianggap sebagai “ikon” semasa PKI masih berjaya. Sebatas itu saja, hanya sekedar judul yang terdiri dari dua kata  saja, “genjer-genjer.”  Mengapa dongeng itu “dilarang” dituntaskan untuk “diserahkan” pada anak-anak seusiaku? Saat itu aku tak tahu, sekedar bisa mengamininya begitu saja. Tak ada daya untuk melanjutkan kembali pertanyaan-pertanyaan nakal karena seringkali hanya dijawab singkat, “itu tak boleh dinyanyikan lagi.” Perlakuan keji rezim Suharto terhadap sang guru yang mengajarinya tak ingin terulang dan ini jadi penyebab mengapa cerita itu tak pernah tuntas.

Seiring perjalanan waktu, aku pun menelusurinya sendiri. Menelusuri sejarah yang terpotong dan pernah disampaikan padaku, sepenggal pula. Menelusuri diantara percahan-percahan sejarah yang pernah kuyakini kebenarannya dan telah ku buang jauh-jauh saat kebohongan-nyalah yang sebenarnya melegenda. Sang waktulah yang sebenarnya membimbing untuk melupakan segenap  keyakinan lama akan kebenaran sejarah itu, versi sang diktator.

“Genjer-genjer” sebenarnya bukan jenis lagu resmi organisasi semacam hymne atau mars. Lagu ini sebenarnya lagu rakyat dengan bahasa jawa berlanggam Banyuwangi dan berlaras pelog. Nyayian rakyat ini digubah oleh seniman dari Banyuwangi M. Arif pada 1943. Diciptakan untuk menggambarkan penderitaan rakyat pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Popularitas nyanyian rakyat ini tak lepas dari raamalaan seorang pengurus CC Politbiro PKI, Nyoto. Menurut kisah Hersri Setiawan dalam bukunya “Aku Eks Tapol”, Nyoto mengatakan, “lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional.” (hal. 206-207). Memang benar adanya, nyanyian ini pun meluas dan dinyanyikan di banyak tempat oleh artis-artis zaman itu.

Pengkonotasian nyanyain “Genjer-Genjer” ini tak bisa lepas dari tabiat rezim fasis-militeristik Suharto. Rezim despotik itu menganggap peristiwa G 30 S sudah direncanakan sedari awal, sejak lagu “genjer-genjer” digubah. Mengapa demikian? Didalam salah satu baitnya ada lirik esuk-esuk pating keleler, dan ulangan yang sama nang kedhokan pating keleler. Kedua bait itu diartikan sebagai suatu rancangan peristiwa G 30 S. Apalagi ditambah kesaksian seorang perempuan sukarelawan Dwikora bernama Jamilah yang memberikan kesaksian bahwa saat pembunuhan para jenderal itu terjadi pemotongan penis dan pencungkilan mata. Dia juga menceritakan adanya upacara maut para aktivis Gerwani dan Pemuda Rakyat sebelum para jenderal itu dieksekusi, “Harum Bunga.” Kesaksian tersebut diamuat di Harian Api Pantjasila dan Berita Yudha pada awal-awal sesudah 1 Oktober 1965 (Hersri Setiawan, 2003: 211).

Namun, apa yang menjadi kesaksian dan diberitakan di media massa itu sebenarnya hanya kabar bohong belaka. Menurut kesaksian salah seorang dokter yang melakukan otopsi terhadap jenazah paara jenderal tersebut (maaf, lupa namanya), tak ada satu bagian tubuh pun yang hilang. Hilang seperti yang seperti yang ada dalam kesaksian tersebut, juga di film-film propaganda ala rezim Suharto. Menjadi sebuah pertanyaan besar tentang hal ini karena kebohongan publik telah berdampak besar bagi mereka yang dituduh beserta sanak keluarganya.

Kembali lagi ke persoalan lagu “Genjer-Genjer.”  Phobia terhadap nyanyian rakyat ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah “dokumen” berisi lagu-lagu yang hendak dibawa oleh paduan suara. “Dokumen” tersebut berupa buku stensilan yang diterbitkan oleh CC PKI sebagai sumbangan untuk sukarelaawan Dwikora yang dilatih di Halim. Namun, anehnya, didalam “dokumen” itu sejatinya berisi banyak lagu-lagu darah lainnya, seperti: Kr. Kemayoran, Jali-Jali dan Glatik Nguk-Nguk. Tak luput pula berisi juga lagu daerah dari Madura, Tanduk majeng  yang bersama Genjer-Genjer telah dinyanyikan cukup luas saat itu. Anehnya, lagu-lagu yang ada didalam “dokumen” tersebut tak bernasib sama dengan “Genjer-Genjer.” Masih bisa eksis dan dinyanyikan secara luas dengan bebas tak seperti “kawan karibnya” asal Banyuwangi. (Hersri Setiawan, ibid.: 211-212)

Inilah lirik lagu Genjer-Genjer:

Genjer-genjer nong kedhokan pating keleler
Emake thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh sak tenong mungkur sedhot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi padha didhasar
Emake jebeng padha tuku gawa welasan
Genjer-genjer saiki wis kudu diolah

Tak elok kiranya bila nyanyian rakyat itu dikubur hidup-hidup dalam peti mati kekuasaan. Nyanyian itu perlu diperdendangkan lagi sebagai khazanah budaya bangsa. Tak lantas memaknainya secara politis seperti halnya rezim fasis-militeristik Suharto mengartikannya. Menyanyi bersama-sama dalam ke-ria-an sebagai ekspresi budaya, bukan dalam kerangka politik. Seperti nasib lagu-laagu rakyat lainnya yang secara luas dinyanyikan dengan gembira. Mari, kita bernyanyi bersama-sama.

Tentang Internasionale

“Lagu kebangsaan” kaaum buruh sedunia yang dinyanyikan saat internasionale II di Paris ini memunyai arti penting bagi sejarah Indonesia. Sejarah yang tak pernah lekang dari pengaruh kekuasaan. Namun, dibalik nyanyian yang mengantar Amir Sjarifuddin menuju Sang Khalik di depan regu tembak ini sebenarnya memunyai arti tersendiri. Memunyai arti sebagai bentuk penolakan terhadap sikap nrima ing pandum karena telah dialih-bahasakan ke Bahasa Indonesia.

Siapa tak menyangka. Translator dari lagu ini sebenarnya adalah Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat. Lagu ini dialih-bahasakan pada 1920. Syair yang sudah dialihbahasakan ini dimuat di Het Indische Volk – Weekblad van de Indische Sociaal Democratische Partij; No. 28, 1 Mei 1920.

Bangoenlah, bangsa yang terhina!

Bangoenlah kamoe jang lapar!

Kehendak jang moelia dalam doenia

Senantiasa tambah besar

Lenyaplah adat fikiran toea!

Hamba ra’iat, sadar, sadar

Doenia telah berganti roepa

Nafsoelah soedah tersebar!

……

Begitulah satu bait pertama Internasionale yang telah dialih-bahasakan itu. Menciptakan inspirasi tersendiri bagi pergerakan Indonesia kala itu, bahkan tetap melekat sampai saat ini.

Komentar
  1. pertegas cerita dengan penipuan yg di buat oleh rezim soharto,mengapa semua tak dapat mengadili antek-antek soharto yg tersisa,anak-cucu soharto dan antek-anteknya mencuri harta negara yg begitu banyaknya,tak sati senpun negara INDONESIA dapat menyitanya,ada apakah di balik ini semua,sejarah telah di putar balikan,antek-antek soharto tetap berkuasa !

    • arief setiawan mengatakan:

      Itu usulan menarik buat tulisan singkat selanjutnya….

      Memang, mau tak mau, sejarah milik penguasa. Seperti peribahasa terkenal, “sejarah adaalah politik masa lalu, politik adalah sejarah masa depan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s