Legenda: Pesona Selokambang

Posted: 16 September 2009 in Arbiter

selokambang3Selokambang. Kata ini hampir pasti tak asing lagi bagi tiap pasang telinga warga Lumajang. Legenda, itulah bahasa hiperbola untuk menggambarkan ketenarannya karena sangat popular. Andai saja survey dilakukan terhadap warga Lumajang, hampir bisa dipastikan mayoritas responden mengatakan pernah, bahkan sering menyambanginya. Tak peduli, tua atau muda pasti tahu, lebih dari itu, tak lengkap rasanya mengatakan sebagai warga Lumajang bila belum mengunjunginya (gimana lagi, lha wong ga ada pilihan lain:D).

Selokambang sendiri berbentuk pemandian alam. Hawa sejuk dan air bening nan membekukan tulang jadi ciri khas obyek ini. Air terus mengalir sedari dulu tanpa henti dengan suhu yang mampu membuat orang menggigil. Ditambah lagi dengan pepohonan hijau yang semakin menambah hangatnya suasana. Banyak aktivitas bisa dilakukan, dari kum-kum (berenang) atau  sekedar menikmati hawa sejuk di bagian atas dengan berbagai macam sarana permainan anak-anak. Namun, jangan pernah membayangkan adanya pakaian renang seksi seperti halnya kolam renang pada umumnya, hijaunya saja yang bisa dinikmati.

Desa Purwosono merupakan lokasi dari pemandian ini, berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat kota (jangan bayangin kota besar ya!). Kendaraan umum ke arah Senduro siap mengantar hingga tujuan, atau kalau ingin nekat, bisa dengan menumpang (nggandol) truk sampai tujuan (hayo, ini kebiasaannya siapa, ngaku aja?). Tak hanya berfungsi sebagai tempat wisata, airnya juga dimanfaatkan untuk memenuhi bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lumajang. Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Lumajang, debit sumber air Selokambang mencapai lebih dari 1.350 meter kubik per detik, dan dimanfaatkan warga sekitar kota.

Tak banyak yang bisa disisir dari tempat ini. Empat penjuru mata angin saling berebut tempat sehingga sangat singkat untuk ditelusuri. Tembok-tembok pembatas membuat garis tersendiri untuk menyatakan lokasi Selokambang nan melegenda itu. Utara, barat, timur, dan selatan bersatu padu membentuk namanya. Hanya keramaian saja yang membuatnya terasa luas menembus horison dan mengatakan, “akulah sang penarik massa.” “Penarik massa” yang didalamnya hanya berisi pemandangan hijau, tak lebih dari itu.

Misteri, itulah kata yang layak untuk memertanyakan bagaimana “danau” ini terbentuk. Menurut legenda, keberadaanya tak lepas dari sejarah emas Majapahit. Siapa lagi kalau bukan Nambi yang kala itu bertindak sebagai penguasa Lamajang. Pemberontakan Nambi yang hampir meluluhlantakkan Majapahit dan ditumpas pasukan Gajah Mada itu membuat Nambi beserta keluarganya meregang nyawa. Namun, salah seorang bawahannya. Demang Ploso, berhasil keluar dari maut. Perjalanan hidup Demang Ploso inilah yang menciptakan “sejarah” Selokambang karena kesaktiannya mampu menggeser batu besar ditengah “danau” tanpa tenggelam bak batu apung. Karena itu, nama selokambang jadi nama yang menunjukkan identitas tempat ini.

Wajah Nan Semakin Cantik

Ikon pariwisata yang melekat pada Selokambang sudah ada sedari dulu. Masyarakat Lumajang telah menjadikan lokasi ini sebagai tempat plesiran yang murah meriah karena memberikan hiburan tersendiri. Almarhum nenek pernah bercerita, plesir ke Selokambang merupakan suatu peristiwa yang layak dirayakan. Perjuangan untuk sampai di lokasi itu harus dilakukan karena minimnya transportasi yang ada. Tak ada pilihan lain selain harus menundukkan waktu yang tak mau berhenti barang sedetik saja.

Dari kota nan penuh pesona, Tempeh, cikar (pegon) jadi alat transportasi. Perjalananan “panjang” nan melelahkan harus ditempuh. Berangkat sekitar subuh untuk menghindari keberingasan matahari siang, dan bisa berlama-lama menikmati dinginnya air selokambang. Tentu saja, plesiran itu dilakukan dengan beramai-ramai sehingga perjalanan itu bisa menanggalkan keceriaan. Kondisinya masih sederhana,  tak “secanggih” keadaan yang bisa ditemui saat ini.

Namaa yang abadi. Mungkin itu sebutan yang layak bagi selokambang karena keberadaannya menyatu dengan warga Lumajang. Masa kecil ku juga tak bisa lepas darinya, begitu pula anak-anak Lumajang lainnya yang sekarang sudah tersebar dimana-mana. Jadi tujuan paling “elit” tatkala libur menyapa; berendam, bandulan, dan menikmati tahu peting di bibir kolam merupakan kenangan tersendiri. Tentu saja, kolam anak-anak dengan dasar penuh tumbuhan air jadi tempat terfavorit.

Saat  liburan tiba, lebaraan atau hari-hari besar lainnya, popularitas selokambang semakin merajalela. Orkes dangdut jadi hiburan tersendiri, mengalahkan isi sebenarnya dari selokambang. Ramai, penuh sesak, dan alunan music yang nge-beat menjadi tontonan tersendiri. Namun, hawa sejuknya tetap menyelimuti, tak tergantikan oleh apa pun. Juga tahu petis dan ote-ote hangat yang siap menyambut dikala dinginnya air tak bisa dikompromi lagi.

Seiring perjalanan waktu, selokambang pun semakin dewasa. Banyak perubahan terjadi didalamnya. Kolam anak-anak yabng dulunya berlantai dasar hijau ganti, bahkan dibangun temnpat tersendiri. Disambut patung Mickey Mouse, wahana renang untuk anak-anak terhampar. Bermacam permainan juga melengkapi kemeriahannya (pingin naik kereta-kereta-an, tapi ga keturutan…). Namun, meski berbenah dengan hebat, ada satu ikon yang tak pernah berubah, pesawat tempur. Pesawat yang sedari dulu tak pernah terbang, hanya parkir di hanggar.

Mengunjunginya sekali saja setelah empat tahun lebih tak pernah menjamahnya. Berkunjung sekali saja membuat kenangan-kenangan masa lalu muncul dengan deras,  tak terbendung. Banyak sekali perubahan didalamnya, tapi pesawat tempur itu masih tetap adanyaa. Berdiri gagah menantang angkasa ditengah banyaknya keceelakaan udara. Tetap menantang tak bergeser sedikitpun, menantang angkasa merebut hati siapa saja yang mengunjunginya (apa garaa-gara bannya bocor so ga pernah terbang?:D).

Iklan
Komentar
  1. Agus Nadzir berkata:

    sy punya usulan selokambang di jadikan obyek wisata andalan lumajang dan jawa timur kususnya, sarana dan prasarana lebih di lengkapi seperti jatim park malang sehingga bisa medongkrak pariwisata selokambang itu lebih di kenal orang dan tambah maju, sangat di sayangkan pemandian alam indah perti itu hanya itu – itu saja, sy sebagai warga lumajang kususnya sangat bangga kalau di masa akan datang selokambang di jadikan jatim park III

    • arief setiawan berkata:

      sama mas. saya juga akan sangat bangga bila itu benar2 tterjadi. sekarang, minimal bagaimana promosi wisata itu dilakukan seperti awal dekade 1990-an. Sama ketika mempromosikan segitiga rau yang saat ini entah bbagaimana nasibnya….

      wah, lumajang ngendi mas, aq wong Tempeh^^

  2. firmasahrul berkata:

    salam kenal gan, btw themenya bagus buat wordpress hehehe
    selokambang klo dari kediri jauh yaa padahal pengen kesana
    kunjungi blogku juga ya gan http://www.wisatapanorama.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s