KESASAR IBUKOTA

Posted: 16 September 2009 in Arbiter

selamat-sore-jakartaIbukota. Kota yang awalnya hanya bisa ku lihat di televisi. Itu pun tak pernah utuh, hanya bisa berimajinasi belaka. Tak pernah membayangkan harus menjejaknya saat pertama kali melihatnya di layar kaca.

Kota Kecil di Jawa Timur, Lumajang, jadi tempat aku mengawali semuanya. Memang, kampung halaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Orang-orang pun banyak yang tak tahu pada titik mana kota ini berada. Mungkin di peta “tak dimuat”, hanya di peta Lumajang saja adanya. Hampir setiap orang yang pertama kali kenal tak “bersahabat” dengan nama itu:(

Masa kanak-kanak ku lewatkan dengan suasana pedesaan. Sawah, sungai, jalan tak beraspal jadi teman akrab. Keramaian pasar malam dan layar tancap yang jadi satu-satunya sumber ke-ria-an.

Sekolah dasar terlewati dengan penuh suka cita. Apalagi dengan kondisi sekolah yang mengasah jiwa bertalenta tinggi, banyak keahlian. Mulai dari juru kunci, perikanan, pertanian, pemasaran, dan pergudangan “diajarkan.” Sungai, sawah, kuburan, pasar, dan gudang tembakau jadi entitas tak terpisahkan dari sekolah itu (sampai sekarang sih):D

Kemudian masa transisi datang, masuk jenjang SMP. Migrasi tak terelakkan karena tak ada sekolah sederajat dengan tingkat itu. Ibukota kecamatan ku susuri dengan mengayuh sepeda angin. Jaraknya tak terlalu jauh, cukup 15 menit saja.

Pada masa ini, telepon mulai masuk kampung (lambat sekali ya). Telepon umum koin pun jadi primadona. Hampir tiap malam mejeng di area tersebut, tentu saja sangat dipenuhi remaja-remaja yang haus teknologi ini. Kantor Telkom jadi sasaran. Sangat ramai hingga harus antre (padahal di tempat lain sudah jadi pemandangan umum). Uang receh jadi primadona, apalagi kalau bukan untuk sekedar mencoba teknologi “baru” ini (kampungan…..).

Masa penuh ujian di SMP berlalu. Jenjang lebih atas harus dilalui, SMA. Kali ini, migrasiku lebih jauh lagi, ibukota kabupaten yang berjarak sekitar 12 Km. Jarak seperti ini memaksaku harus bangun lebih pagi. Jam 6 pagi setidaknya harus berada di jalan raya, menunggu angkutan umum. Maklum, jarak dari rumah ke ruas jalan yang dilalui angkutan umum 1 Km. Jalan kaki harus ditempuh. Kalau terpaksa harus meminta untuk diantar ke tempat tersebut.

Saat SMA banyak yang mengatakan masa indah. Bagiku, benar adanya. Masa penuh kegilaan dengan tingkah polah “pengong.” Membajak halaman sekolah seringkali dilakukan dengan sepak bola kala hujan. Atau memutus celana dalam teman-teman yang sedang lengah. Bahkan sampai sekarang masih saja dilakukan tatkala sedang berkumpul bersama:) SMA ini juga menawarkan pendidikan vokasional, pertanian. Yah, didalam komplek sekolah yang dikelilingi tembok terhampar sawah (tiap hari nonton konser “Padi”).

Selang 3 tahun, semuanya berpencar. Kota-kota besar jadi tujuan untuk melanjutkan studi. Kebetulan, Surabaya jadi tempat singgahku. Berbagai persiapan, maklum orang kampung, kulakukan sebelum berangkat meninggalkan dusun. Tentu saja, sambil membayangkan kehidupan kota metropolitan. Maklum saja, tempatku jauh dari hingar-bingar keramaian kota.

Akhirnya ibukota propinsi paling timur Pulau Jawa ini jadi persinggahan. Tetap saja, identitas sebagai “anak desa” sulit hilang. “Wah, jadi anak kota neh..” benakku menggeliat. Ternyata banyak yang hilang saat berada di Surabaya. Sawah menghampar tak terlihat lagi. Panas menyengat jadi makanan sehari-hari (keluar dari kamar mandi setelah mandi langsung berkeringat kok). Nyamuk beterbangan dan “den bagus” seukuran anak kucing bertebaran diamana-mana. Namun, tetap saja ngangeni meski keadaannya beda jauh dengan kampung.

Selepas dari Surabaya, Ibukota memanggil. Beginilah kehidupan. Masa depan memaksa harus meninggalkan semua kisah yang pernah singgah. Awal menginjakkan kaki di ibukota seperti kejadian saat pertama kali di Surabaya. “Wah, banyak gedung-gedung bertingkatnya ya!” gumamku. Kelihatan banget lah kalau dari kampung, udik.

Kebiasaan baru muncul disini. Harus bersabar dengan kemacetan yang tiap hari melanda. Namun semua harus dijalani. Sawah nan hijau, sungai yang mengalir jernih, dan nir-kemacetan tak ada lagi. Kontras sekali dengan kampung halaman yang sejauh mata memandang hanya ada sawah. Tentu saja tak bisa lagi memangsa kelapa muda dari pohon langsung seperti halnya saat berada di kampung. Tanaman nan hijau diganti dengan bangunan beton menjulang ke langit. Meski demikian, ingin rasanya “bermain” di sawah. Apalagi beberapa hari lalu teman sekampung ke ibukota. Menceritakan banyak hal tentang indahnya sawah. Ditambah dengan gaya khas logat kampung sang kawan. “Yen mrene maneh, ojo lali gawakne jangan kelor karo iwak mendol,” pesanku pada kawan tadi.:0

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s