Bukan David vs Goliath

Posted: 16 September 2009 in Hukum

cicak-vs-buayaDan mereka pun jadi tersangka…

Pergantian hari menandakan pertempuran itu berakhir. Sangat tragis dan emosional. Sang pemenang merayakan dengan pesta pora. Menandakan dimulainya “era baru” yang penuh perjudian. The looser hanya bisa meratapi dengan penuh kegeraman dan caci maki. Hanya bisa memaki ketika melihat sang jagoannya harus tunduk di bawah ketiak kekuasaan, bukan untuk menghamba, tapi demi suatu order sosial.

Inilah akhir yang bisa jadi awalan pertempuran antara cicak vs buaya+Godzilla. Pertempuran ini bukan laksana perang antara David vs Goliath yang sering disebut-sebut dalam berbagai karangan. Bukan soal ukuran, tapi lebih pada mentalitas. Cicak bukan menandakan kecil, atau buaya+Godzilla yang besar. Hanya sekedar simbol untuk menandai panasnya pertempuran di bulan yang sebagian orang menyucikannya.

Hari berganti saat tengah malam membawa perubahan tersendiri. Malam yang begitu hening tiba-tiba ramai bak pasar malam meski hanya terjadi di dunia maya. Pasar malam dunia maya. Ratusan kata terlontar hingga menciptakan nasibnya sendiri, menjadi sebuah kalimat untuk menyatakan maksud. “Booommm…” begitulah suaranya andai saja kata-kata itu bisa didengarkan tanpa menyebut huruf. Namun, semuanya hanya serpihan belaka. Tak bisa mengubah nasib malam jahanam itu. Inilah kronologi penetapannya: http://www.detiknews.com/read/2009/09/16/010635/1204370/10/kronologi-penetapan-2-pimpinan-kpk-sebagai-tersangka-oleh-polri

“Bukan pemerasan, penyalahgunaan wewenang penetapan Djoko Tjandra, pencekalan Djoko Tjandra dan pencabutannya, dan penetapan Anggoro Wijoyo dan pelarangan ke luar negeri,” tegas Chandra Hamzah saat menyatakan dirinya sendiri sebagai tersangka kasus tersebut (Antara, 16/9).

Sejawatnya juga mengatakan hal serupa. Bibit Samad Riyanto menandaskan, penetapan kasus tersangka terhadap dirinya bukan karena melakukan korupsi. Lebih-lebih melakukan tindakan serupa teman sejawat lainnya yang lebih dulu jadi tersangka untuk kasus pembunuhan. “Saya dituduh menyalahgunakan wewenang karena meneken pencekalan untuk Joko Tjandra. Alasan polisi, karena saya menekennya sendiri sedangkankan empat ketua KPK lainnya tak ikut menekennya,” tuturnya. (lebih lengkap penjelasannya, lihat wawancara: http://korupsi.vivanews.com/news/read/90775-_ada_yang_suka_kami_pimpin_kpk_)

Malam itu ternyata memang sangat dahsyat. Seorang perempuan yang biasanya tak terlihat kasar memaki dengan hebat. “ASU!” Hanya bisa membuat tertegun dan prihatin. Bukan terhadap ucapan spontan perempuan itu, tapi kejadian yang menyebabkannya. Semua pun turut serta menghardik dan memaki dengan gaya masing-masing. Mencoba mengeluarkan semua uneg-uneg tentang pertempuran yang melelahkan ini, di dunia maya.

“Perang Bintang”

Gelombang dahsyat itu sebenarnya tak langsung terbentuk bak tsunami yang menerjang Aceh lima tahun silam. Berawal dari riak-riak kecil kemudian membesar dan menelan siapa saja yang ada dilintasannya. Dari satu kemudian tumbuh menjadi tiga. Entah selanjutnya, hendak tumbuh lagi atau tidak, tergantung perkembangan. Dala bahasa planet Namek, tergantung hasil penyelidikan nantinya. Tak menutup kemungkinan untuk bertambah. Bisa saja terhenti di titik saat ini.

Pertarungan yang cukup lama terjadi itu barangkali layak disebut sebagai “perang bintang.” Perang diantara bintang-bintang di angkasa yang memunyai terang hampir sama. Satu sama lain ingin menyembul dan tampak lebih terang dibanding sejawatnya. Inilah bentuk penafsiran yang paling banyak muncul ke permukaan. Namun, kejadian ini ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Keterangan cahaya yang tampak dari bumi ternyata bisa jadi boomerang bagi dirinya sendiri. . (http://www.detiknews.com/read/2009/09/15/235222/1204347/10/mencekal-anggoro-widjaya-polisi-tetapkan-chandra-dan-bibit-jadi-tersangka ; http://korupsi.vivanews.com/news/read/90646-chandra_bibit_ditetapkan_sebagai_tersangka ; http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/09/16/00142093/pimpinan.kpk.ditetapkan.sebagai.tersangka.kasus.suap)

Memang suatu keanehan tersendiri bila cahaya terang itu menjadi sebab suatu kesalahan. Fenomena tersebut bukanlah hak dari pihak berwajib untuk bisa melakukannya. Harus melalui mekanisme yang sebelumnya telah ada, pengadilan di bulan (MK). Mengapa harus di bulan? Itu adalah masalah kewenangan, bukan akibat adanya suatu tindak pidana seperti yang dialami sang masinis sebelumnya. Apalagi perjuangan agar sang bintang itu redup pernah mengalami kegagalan. Hanya diloloskan soal pengadilannya saja yang mana aturannya sampai sekarang masih njlimet.

Hanya itu saja yang disisakan maalam jahanam itu. Getirnya masih terasa hingga sekarang. Mencakar perasaan, mencengkeram lidah, dan semakin meningkatkan suhu sekitar yang sekarang memang sedang panas-panasnya. Sungguh batu ujian tersendiri ditengah lebaraan yang sebentar lagi datang menyambut. Apakah peristiwa ini bisa dikatakan sebagai hadiah parcel lebaran buat bangsa? Atau bisa juga dikatakan sebagai kejutan ditengah badai besar century yang menurut berbagai kalangan sangat mengusik rasa keadilan?

“Dilema sang Bintang”

Genderang “perang bintang” yang telah ditabuh bertalu-talu itu bisa saja membuat semua hati terkesiap. Bisa menjadi alat untuk memukul mundur segala daya upaya yang telah dilakukan seluruh negeri ini. Semuanya bisa sia-sia saja, bahkan dapat jadi alat untuk meng-counter-attack tindakan yang sebelumnya diambil. Menimal mereka yang telah dijebloskan bisa meminta agar segera bebas karena secara formil keliru. Bahkan, maksimalnya, mereka juga menuntut sang bintang itu karena penggunaan kewenangan selama ini.

Mereka yang dinyatakan jadi tersangka ini diganjar dengan aturan. Keduanya harus menerima nasibnya karena mencekal bos PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo dan mencabut cekal mantan bos T Era Giat Prima Djoko Soegiarto Tjandra. Mereka dinilai melanggar ketentuan dalam Pasal 23 UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 421 KUHP dan atau Pasal 12 huruf E UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sangat menarik dan layak dinanti bila kedua tersangka ini benar-benar jadi pesakitan alias terpidana. Mereka yang sudah lama mendekam akan berbahagia dengan hal itu. Aturan yang selamaa ini digunakan untuk menjerat mereka ternyata harus batal demi hukum. Terbukti dengan pernyataan bersalah terhadap sang “pelaku” aturan tersebut ooleh pengadilan. Mimpi buruk apalagi yang hendak diterimakan pada angkasa raya ini. Suatu percobaan. Benar-benar percobaan secara sistematis.

Bintang-bintang kelam pun akan berpesta-pora. Mereka akan menikmati pertarungan ini karena angin segar segera menanti di hadaapan muka. Pasal-pasal yang sebelumnya digunakan untuk menjerat ternyata bentuk tindakan kriminal. Waktunya berpesta. Saat cicak vv buayaa+Godzilla bertarung, tikus semakin leluasa saja. Apalagi kalau sampai cicak harus menggenapi takdirnya di liang kubur. Tikus pun bisa tiap hari berpesta pora dalam pesawat ulang-alik yang sebenarnya bukan miliknya.

Komentar
  1. […] merekayasa proses hukum tersebut karena minimnya alasan penguat mereka (lihat tulisan sebelumnya, “Bukan David Vs Goliath”). Ditambah lagi dengan adanya rekaman percakapan yang disinyalir erat dengan langkah hukum Polri. […]

    • arief setiawan mengatakan:

      Itulah opini publik yang saat ini berkembang. Tentu saja, siapa pun tak ada yang berharap adanya rekayasa pelemahan KPK. Kita dengarkan saja nanti rekaman itu di sidang MK….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s