IRAN: BELAJAR DARI REVOLUSI 1979

Posted: 14 September 2009 in Hubungan Internasional

Kondisi Iran yang memanas dan mulai reda akhir-akhir ini membuat situasi politik di Timur-Tengah menghangat. Besarnya massa dan massifnya tuntutan untuk pemilihan ulang presiden yang diselenggarakan 12 Juni lalu jadi penyebab memanasnya suhu politik di Iran. Tak hanya pertarungan para kandidat presiden, demonstrasi besar juga melanda negeri ini. Lebih jauh lagi, korban luka, bahkan meninggal dari pihak demonstran terus berjatuhan. Tentu saja, situasi seperti ini dapat menimbulkan instabilitas yang berkepanjangan dan membuat tak menentunya kondisi domestik.

Sikap tegas yang diambil pemerintah Iran dengan bergeming terhadap aksi protes tersebut tak dapat dipisahkan dari sejarah mereka. Sejarah tentang revolusi yang menggulingkan pemerintahan Shah Iran, Reza Pahlevi, pada 1979. Revolusi tersebut menggambarkan sikap keras bangsa Iran terhadap segala bentuk intervensi dari pihak luar. Dalam hal ini, pemerintahan Shah Reza Pahlevi dikatakan sebagai bentuk boneka dari kepentingan-kepentingan asing terhadap negeri para mullah ini. Pemerintahan Shah Iran mendapat stigma seperti ini karena rezimnya ditengarai berdiri bukan dengan cara wajar, mendapat sokongan asing untuk menggulingkan Mossadegh sebagai pemimpin Iran. Pemerintahan demokratis di bawah kepemimpinan Mossadegh pun runtuh, dan sikap anti-demokrasi yang ditunjukkan rezim Shah Iran yang menggantikannya membuat penderitaan bagi rakyat semakin menjadi.

Jalan panjang nan terjal menuju Iran seperti sekarang ini membuat setiap elemen bangsanya berjuang keras memerjuangkan hak-hak mereka. Hak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat tanpa harus meninggalkan etika dalam pergaulan internasional. Namun, demonstrasi besar yang dipelopori para pendukung kandidat Presiden Mir Hossein Mousavi ini kembali membuat mata seluruh dunia tertuju ke Iran. Mereka memrotes hasil pemilihan presiden yang memenangkan calon incumbent Mahmoud Ahmadinedjad ke tampuk kekuasaan kembali.

Pro dan kontra terhadap pemilihan presiden terus terjadi. Massa pendukung presiden terpilih Ahmadinedjad pun tak tinggal diam. Mereka pun melakukan tindakan serupa, tapi tak sebesar yang dilakukan oleh massa rival politiknya. Terkait masalah ini, Garda Revolusi sebagai institusi berpengaruh di Iran tak tinggal diam. Garda Revolusi mengakui adanya kecurangan di 50 daerah pemilihan, tapi hal itu tak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir. Namun, para kandidat yang kalah menyatakan, kecurangan dalam pemilu terjadi di 170 daerah pemilihan. Akibatnya, demonstrasi dalam skala besar terus berlanjut sehingga melumpuhkan perekonomian dan menghambat terbentuknya pemerintahan baru. Sikap tegas pun diambil terhadap para pengunjuk rasa. Sebanyak 17 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 450 orang lainnya ditangkap oleh aparat kemanan.

Pemilihan presiden yang berlangsung 12 Juni silam secara meyakinkan memenangkan incumbent. Ahmadinedjad yang terkenal tegas ini memeperoleh suara mayoritas dengan mengantongi suara sekitar 64 persen, dan sisanya diraih pesaingnya, Mousavi. Ahmadinedjad ternyata masih dicintai rakyatnya meski banyak pihak seringkali mengritiknya habis-habisan terkait kebijakannya mengenai nuklir. Namun, sikap tegas aparat keamanan terhadap para demonstran harusnya tak berujung pada kekerasan yang menimbulkan korban jiwa. Pemerintah Iran harusnya tetap menghormati hak sipil dan politik rakyatnya sebagai wujud penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Internasionalisasi (?)

Tertutupnya Iran dari pers asing tak membuat informasi tentang situasi di negeri ini terhenti. Melalui situs jejaring sosial internet seperti: twitter, facebook, dan friendster, informasi-informasi tersebut mengalir ke seluruh dunia. Keadaan ini seperti bak memutar sejarah ketika menggulingkan rezim Shah Iran pada 1979, tapi saat itu menggunakan kaset sebagai sarananya. Dunia pun tahu, dan tanggapan-tanggapan dari berbagai negara pun bermunculan terhadap masalah domestik tersebut.

Bermunculannya tanggapan-tanggapan dari luar negeri tak bisa lepas dari kontroversi yang selama ini terjadi, terkait program nuklir Iran. Pada masa pemerintahan Bush, bersama Korea Utara dan Kuba, Iran dikategorikan sebagai negara poros setan (axis of evil). Iran dituduh sebagai negara yang tengah menjalankan program nuklir untuk persenjataan. Menurut Menlu AS pada masa pemerintahan Bush, Iran merupakan bentuk “tirani terdepan”, dan Wapres Dick Cheney juga menyatakan, Iran jadi negara yang masuk dalam daftar utama “titik masalah” potensial bagi negeri adidaya tersebut. Dewan Keamanan PBB pun bergerak menekan Iran agar tak mengembangkannya. Namun, Iran membantah tudingan pengembangan senjata nuklir itu. Proyek pengayaan uranium yang sedang mereka lakukan pada dasarnya untuk kepentingan pengembangan energi alternatif seperti penegasan Ahmadinedjad pada September 2005.

Israel pun tak ketinggalan memberikan komentar pedasnya terhadap masalah yang sedang dihadapi Iran saat ini. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mendukung aksi yang dilakukan kelompok oposisi tersebut. Masalah nuklir Iran jadi acuan dari sikap PM Israel terkait masalah ini. Netanyahu dalam hal ini tak ingin melihat kiprah Ahmadinedjad lagi. Keberadaanya dianggap membahayakan Israel meskipun program pengayaan uranium tersebut secara tegas dinyatakan Pemerintah Iran untuk kepentingan energi, bukan persenjataan.

Munculnya berbagai tanggapan terhadap demonstrasi besar atas hasil pemilihan presiden berdampak pada hubungan Inggris dan Iran. Pemerintah Iran dalam hal ini mem-persona-non-grata-kan dua diplomat Inggris di Teheran. Tindakan serupa juga diambil Pemerintah Inggris yang juga mengambil langkah serupa, turut mem-persona-non-grata-kan dua diplomat Iran dari London. Langkah persona non-grata diambil Iran karena keduanya dinilai melakukan aktivitas yang tak sesuai dengan statusnya sebagai diplomat. Inilah bentuk nyata sikap Iran yang tak ingin kejadian yang dialami Mossadegh pada 1953 terulang kembali. Iran juga tak ingin terhanyut dalam berbagai pernyataan-pernyataan berbagai negara yang dapat melemahkan posisi mereka sebagai negara berdaulat. Meski demikian, Pemerintah Iran harus tetap mengoreksi tindakan mereka terhadap para demonstran agar korban tak berjatuhan lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s