MUDIK

Posted: 14 September 2009 in Sosial-Budaya

“Desaku yang ku cinta. Pujaan hati ku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulan ku […] Selalu ku rindukan. Desaku yang permai”

Kata mudik saat ini bak azimat yang sering diucapkan dan jadi primadona setiap orang maupun media massa. Menggambarkan suatu suatu perjalanan “spiritual” untuk memenuhi kepuasan bathin bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman. Bertemu dengan keluarga, teman lama, serta kenangan masa kecil nan begitu indah. Kenangan masa kanak-kanak yang banyak dihabiskan di sawah, sungai, dan hutan. Atau permainan-permainan zamaan dulu yang sekarang sudah banyak dilupakan akibat kemajuan teknologi. Mudik pun jadi menu wajib tahunan dan tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Mudik sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah ku. Ritual ini tiap ini pasti terjadi dalam keluarga dan senantiasa dilakukan. Namun, makna mudik yang dulu ku pahami sejak punya ingatan hingga masa SMA hanya sebatas silaturrahmi. Berkunjung ke desa ke kampung Ibu yang sampai saat ini masih berupa hutan dan semak belukar. Tak layak bila dikatakan kunjungan dari kota ke desa karena tempat tinggalku sejatinya kampung juga. Kampung tak berujung dengan hamparan sawah yang masih luas dan membentang sepanjang empat penjuru mata angin. Mudik bukan berarti berduyun-duyun dari kota ke desa. Malahan, dari desa ke desa.

Seiring waktu berjalan, mudik semakin kurang begitu bermakna lagi. Masa kuliah memberikan pemahaman baru tentang apa itu mudik. Ternyata mudik tak harus dilakukan saat lebaran tiba. Bisa dilakukan kapan pun karena silaturrahmi sejatinya tak pernah mengenal waktu. Moment apa pun bisa jadi alasan untuk mudik. Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk sekedar berduyun-duyun dengan kardus-kardus yang memenuhi bagasi atau sebagai barang bawaan. Makna spiritual dari mudik itu sendiri bukan jadi esensi sejati, tapi ikutan. Namun, substansi sebagaai ajang silaturrahmi tetap melekat tak lekang dimakan zaman.

Banyak orang mengatakan, mudik merupakan bagian dari perjalanan atau laku “spiritual”. Perjalanan menyambut kesucian karena telah melaksanakaan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagai wujud ke-fitrah-an dengan saling bermaaf-maafan atas kesalahan di masa lampau agar tak jadi beban hidup selanjutnya. Juga sebagai wujud aktualisasi budaya dengan semua hiruk-pikuknya. Penyesalan tiada henti bila laku “spiritual” ini tak dapat dilaksanakan. Hanya setahun sekali dan tak akan terulang kembali dalam kurun waktu yang sama. Siapa pun akan berusaha keras untuk bisa melaksanakan dengan berbagai macam cara dan upaya.

Waktu pun kembali mengubah pandangan akan esensi dari mudik itu sendiri, tapi secara substansi persepsi itu tetap sama. Ke kampung halaman untuk bertemu kenangan semakin menggebu karena semua memori itu hadir saat lebaran tiba. Mudik tak beramakna sekedar berkunjung lagi, tapi menunjukkan suatu intimitas hubungan dalam dunia yang sedang berlari ini. Merajut kembali persahabatan lama dalam bingkai pertemuan. Mengenang kembali suka dan duka masa lalu. Menjalin kembali untaian kekeluargaan yang hampir setahun jarang bisa dilakukan secara langsung, face to face.

Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya “Anak Semua Bangsa”.  “Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar dari panasnya permusuhan.”

WAJAH KETIMPANGAN

Mudik setiap lebaraan tiba sejatinya bukan hanya bicara soal laku “spiritual”. Fenomena ini bisa bermakna adanya disparitas yang mencolok dan menggambarkan kondisi riil negara. Menjelaskan dengan gamblang ketimpangan sosial dan ekonomi antara kota dengan desa. Antara pusat dengan daerah dengan berbagai atribut didalamnya. Berterus terang tentang adanya sistem seperti yang digambarkan dalam teori dependensi a la Wallerstein serta Andre Gunder Frank: adanya wilayah core dan periphery atau metropolis dengan satelit.

Gambaran nyata ini tampak dengan jelas ketika antrian memanjang untuk membeli tiket mudik. Menginap untuk mendapatkan selembar tiket pun harus dijalani agar kepastian mudik bisa terjamin. Stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara dapat jadi alat untuk membuktikannya. Padatnya jalanan dan antrean kendaraan untuk bisa diangkut kapal ferry jadi pemandangan biasa. Ekstremnya, fenomena ini bisa dikatakan sebagai wujud ruralisasi tapi tidak permanen. Mengindikasikan besarnya angka urbanisasi yang memberi tanda, pembangunan di daerah sangat minim.

Semua sumber-sumber ekonomi terpusat dan menetes sangat kecil ke daerah. Fenomena mudik senantiasa menggambarkan belum maksimalnya desentralisasi atau otonomi daerah yang saat ini digembor-gemborkan. Kota tetap jadi primadona karena segalanya terpusat disini. Gambarannya, roda perekonomian nasional sebesar 60 persen terpusat di Jakarta. Sisanya harus dibagi dengan 32 propinsi lainnya dengan besaran tak sama.

Hasil survey Indeks Negara Gagal yang dilakukan Majalah “Foreign Policy” dapat jadi gambaran utuh tentang ketimpangan ini. Indonesia berdasarkan indeks 2009 mendapat nilai tinggi atas hal ini. Angka indeks sebesar 8,1 “berhasil” diraih dalam kategori ketimpangan pembangunan. Menjadi pertanyaan besar tentang desentralisasi yang saat ini gencar dilakukan. Mengapa mudik masih berlangsung dalam jumlah besar tiap tahunnya, dan terus meningkat? Cukup tragis juga karena Indonesia sejatinya bukan hanya Jakarta atau beberapa kota besar lainnya seperti Surabaya dan Medan. Masih ada wilayah lainnya, seperti: Lumajang dan Bau-Bau.

Begitu pula makna mudik untuk tahun ini. Juga menegaskan realitas yang sedang terjadi. Kota tetap sebagai sentrum perekonomian. Aku dan pemudik lainnya dari daerah harus turut serta melakukan laku “spiritual” ini. Segera ingin bertemu sahabat dan keluarga di kampung halaman. Bercanda tawa bersama dalam naungan langit dengan bintang-bintangnya yang tampak jelas terang gemilang. Tak kalah dengan sorot lampu gedung-gedung pencakar langit yang seolah-olah hendak memangsa ketinggian ibukota. Inilah reaalitas yang terjadi dan tiada untuk mengada-ada. Aku dan pemudik lainnya tetap harus melakukan laku “spiritual” ini sebagaimana adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s