Sekolah Antik

Posted: 30 Maret 2009 in Arbiter

Hawa pedesaan pada 1988 menyelimuti langit. Saat itu merupakan awal tahun ajaran baru. Anak-anak seusiaku saat itu bersemangat untuk “makan” bangku sekolah. Apalagi kalau bukan Taman Kanak-Kanak.

Begitu pula kedua orang tua ku juga menghendakinya. Aku pun hendak didaftarkan di TK desa sebelah. Apa daya, kehendak itu tak kesampaian karena aku ogah masuk TK. Aku ingin langsung masuk SD seperti sepupuku.

Untungnya orang tua saat itu menuruti kehendakku. Aku pun dimasukkan ke SD yang sama dengan sepupuku meski berstatus titipan. Aku pun jadi murid termuda di kelas itu.

Seiring perjalanan waktu, empat bulan sudah terlampaui. Menerima rapor adalah hal paling ditunggu. Namun saat itu aku bingung. Kenapa raporku beda dengan lainnya. Rapor semua teman berbentuk buku, tapi punyaku hanya selembar kertas. Tapi hal itu tak pernah ku pikirkan. Toh pada dua Cawu berikutnya aku pun menerima hal sama.

Tahun berganti musim berlalu. Hampir semua teman naik kelas, tapi aku tetap di kelas 1:( Meski demikian, aku tetap bahagia. Tak hiraukan dengan status “tidak naik kelas.” Memang aku sengaja tak dinaikkan karena faktor usia, terlalu muda.

Tahun kedua di kelas satu ku lalui dengan bahagia. Hal sama terulang. Rapor cuma selembar dan tak naik kelas lagi. (Duh…malangnya nasibku). Orang tua dengan sengaja meminta wali kelas tak naikkan meski sebetulnya dinilai sudah mampu.

“Disayang Bu Guru.” Itulah jawabanku saat ditanya “mantan” teman sekelas dulu. Namun, tahun ketiga dikelas 1 ini beda dengan sebelumnya meski tak pernah berpikir terlalu jauh. Aku khawatir tak naik lagi, disayang Bu Guru lagi. Namun, hal itu tak terjadi. Ternyata aku saat kenaikan kelas berhak melesat ke tingkat selanjutnya, kelas 2:)

Sekolahku memang bukanlah tempat favorit. Sekolah kampung. Disini merid2nya punya skill multi-talenta. Pertanian, perikanan, pergudangan, pemasaran, dan juru kunci “diajarkan” disini. Mengapa demikian? Sebelah kiri sekolah sungai, belakang sekolah ada sawah, kanan adalah kuburan, depan ada gudang dan pasar. Jadi lengkaplah semua itu.

Saat indah tentu senantiasa hadir. Apalagi kalau bukan pas musim tembakau. Gudang tembakau depan sekolah yang biasa sepi jadi ramai. Penuh hiruk-pikuk buruh tembakau dan truk-truk angkut. Juga tiang-tiang tempat jemur tembakau. Sekolahku pun penuh aroma tembakau dan seperti arena lari halang rintang.

Keramaian pasar krempyeng tak luput juga. Bahkan aku kenal dengan pengemis tua yang ada disana. Aku sering menyapanya saat berangkat dan pulang sekolah. Begitu pula teman yang saat itu berangkat bersama. Ramai dan penuh gelak tawa. Hal yang sekarang tak dijumpai lagi.

Sungai pun jadi sasaran “kebrutalan.” Habis olah raga, ritual mandi bersama di sungai dilakukan. Tak peduli kondisi air, kotor atau bersih sama saja. Cubitan kasih sayang tentu saja menghampiri dari Ibu setelahnya karena semua pakaian kotor:)

Bentuk permaianan zaman sekarang tak ada. Hanya sawah, sungai, dan alat seadanya jadi sarana dan peralatan “canggih” bermain.

Tak bisa dipungkiri, kehidupanku memang dari desa. Desa nan tenang dan damai dengan ritme lambat. Ibukota jadi pikiran jauh yang hampir tak terbayang. Hingga saat ini, tempat itu masih desa. Sekolah “antik” ku pun masih tetap ada seperti sedia kala…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s