Paradoks Iklan Politik Partai Golkar dan Demokrat

Posted: 30 Maret 2009 in Politik

Kenaikan anggaran pendidikan hingga mencapai 20 persen APBN tak didiamkan begitu saja. Kenaikan itu saat ini menjadi senjata politik bagi partai-partai politik pendukung pemerintah. Partai Demokrat dan Golkar memanfaatkan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut sebagai sarana iklan politik mereka.

Dalam iklan politiknya di media massa, Partai Demokrat berseru, pemerintah berkuasa saat ini paling berjasa. Sedangkan Partai Golkar mengambil dari sisi DPR sebagai lembaga legislatif yang mengesahkan UU APBN. Keduanya memanfaatkan moment ini untuk menarik dukungan massa dengan menampilkan “jasa-jasa” mereka atas kenaikan anggaran pendidikan.

Penampilan iklan politik ini tentu saja menggelikan dan tak layak disuguhkan kepada masyarakat. Bagaimana tidak, mengapa hal itu tak dilakukan jauh-jauh hari sebelum keluarnya putusan MK. Sangat ironis dengan situasi yang terjadi sebelum MK memutuskan perkara anggaran pendidikan ini.

Ditilik dari proses pengambilan putusan di MK, keduanya sesungguhnya bersikap “menolak” kenaikan anggaran pendidikan. Pemerintah dan DPR sesungguhnya menjadi pihak termohon dalam perkara anggaran pendidikan. Keduanya berupaya memertahankan agar anggaran tuntutan pemohon tak dikabulkan dengan segala upaya.

Dalam proses persidangan, pihak pemerintah dan DPR sesungguhnya “melawan” pemohon yang inginkan anggaran pendidikan sesuai konstitusi, 20 persen. Keduanya menjelaskan dihadapan mahkamah soal pendapat mereka agar anggaran pendidikan tidak 20 persen. Hal ini merupakan mekanisme yang ada dalam setiap persidangan MK. Pemohon dan termohon mengeluarkan sejumlah argumen agar tuntutan dikabulkan, dan disisi lain supaya ditolak.

Apalagi menilik lebih ke belakang lagi, RAPBN. Dalam RAPBN sebelum putusan MK keluar, anggaran pendidikan tak mencapai 20 persen. Sangat ironis dengan gembar-gembor jasa Keduan parpol tersebut (Golkar dan Demokrat) yang menyatakan diri sebagai “pahlawan.” Padahal sebelumnya mereka tak mengusulkan hal itu karena RAPBN dirancang pemerintah.

Klaim berjasa telah mengesahkan anggaran pendidikan dalam iklan Partai Golkar juga layak dipertanyakan. Tentu saja terkait dengan kuantitas mereka di parlemen. Apakah hanya karena jasa mereka UU APBN terkait anggaran pendidikan bisa digolkan? Tentu saja tidak. Partai Golkar pada dasarnya hanya memunyai sekitar 20 persen total kursi di Parlemen. Sangat ironis dengan semua klaim mereka, baik Golkar maupun Demokrat.

Sejujurnya, kalau boleh membusungkan dada, MK lah yang layak menyatakan diri sebagai “pahlawan.” Sebagai penjaga konstitusi, mereka yang memerintahkan hal itu untuk direalisasikan oleh DPR dan Pemerintah. Tanpa putusan MK, anggaran pendidikan akan tetap seperti semula. Jauh lebih rendah dari 20 persen.

Selain itu, keganjilan juga mewarnai perilaku pihak pemerintah dan DPR. Terutama dalam konteks respon mereka terhadap putusan MK. Lihat, UU Pengadilan Tipikor sampai saat ini masih menggelandang meski hal itu telah ditetapkan untuk dibentuk sejak Desember 2006. Begitu pula dengan UU tentang Migas. MK dengan tegas memerintahkan agar Pemerintah dan DPR untuk segera merevisinya, tapi apa kenyataannya. UUMigas sampai saat ini belum juga disentuh untuk direvisi sesuai putusan MK.

Dari semua paparan di atas, sungguh aneh melihat iklan politik Partai Golkar dan Demokrat saat ini. Mereka sesungguhnya membela agar anggaran pendidikan tak sampai 20 persen. Mereka juga lambat dalam merespon putusan MK soal UU Pengadilan Tipikor dan Migas. Mengapa mereka tak malu untuk berkoar-koar soal anggaran pendidikan? Mengapa juga UU Pengadilan Tipikor tak segera dibentuk. Juga UU Migas tak direvisi?

Itulah pentas politik kita saat ini. Meminjam istilah Clifford Geertz, politik di Indonesia adalah panggung teater. Dimainkan saat pertunjukkan (Pemilu) dimulai, dan berakhir ketika selesai. Panggung politik hanya gebyar saat menjelang pemilu dan redup sesudahnya. Pentas bubar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s