Genesis Kemacetan Jakarta: Sebuah Analisis Basis-Superstruktur (Tulisan Singkat)

Posted: 30 Maret 2009 in Sosial-Budaya

Kalau bukan macet berarti bukan Jakarta. Adagium seperti ini sudah jadi ikon tersendiri bagi Ibukota tercinta. Pemandangan kemacetan hampir tak pernah lepas dari setiap mata memandang jalanan Jakarta. Dari ujung timur hingga barat, selatan dan utara menampilkan wajah sama. Macet.

Banyak pihak menilai hal itu sebagai kesalahan tata ruang kota. Ada pula yang berargumen akibat buruknya transportasi massal. Lainnya berpendapat sebagai dampak sentralisasi pembangunan ekonomi yang melahirkan urbanisasi. Bahkan sebagai akibat dari buruknya infrastruktur.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh instansi terkait. Mulai dari proyek Transjakarta, transportasi air, dan aturan 3 in 1 di jalan-jalan utama Ibukota. Namun, kemacetan tak kunjung mencair, tetap parah. Kondisi demikian dapat dilihat saat jam berangkat atau pulang kantor. Kemacetan dimana-mana, dan hal itu menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Dalam mengatasi masalah ini, instansi terkait kurang memerhatikan aspek penyebab utama kemacetan. Tentunya jumlah kendaraan pribadi yang sangat besar melebihi kapasitas jalan. Terutama jumlah mobil pribadi yang “memperebutkan” jalanan Jakarta. Aturan 3 in 1 hanya jadi brosur saja.

Mengenai aturan 3 in 1 ini, banyak kejanggalan terjadi. Saat melintas di jalan penghubung menuju pusat kota, para joki 3 in 1 berjejer dipinggir jalan. Mereka menawarkan jasa bagi pengendara roda empat yang sendirian atau hanya berdua dan hendak ke tengah kota. Ironisnya, polisi tak ambil sikap tegas terhadap pengendara curang itu. Mereka secara terang-terangan menyewa jasa para joki meski polisi di depannya. Apa guna aturan itu ada bila hal itu tetap dibiarkan terjadi.

Kondisi demikian bukanlah sesuatu hal alamiah. Kemaceta yang terjadi di Jakarta adalah ciptaan dari sistem yang ada. Para joki 3 in 1 bukanlah penyebab kesalahan. Mereka adalah korban dari kemiskinan. Kemiskinan sistemik yang mengharu-birukan ibukota. Mereka pada dasarnya tak ingin menjadi joki. Mereka ingin hidup seperti lainnya. Tak perlu menawarkan jasa di pinggir jalan kepada pengendara yang tak sesuai aturan 3 in 1.

Logika sederhana saja, para pengendara roda empat akan berpikir panjang bila gunakan kendaraannya saat tak sesuai aturan 3 in 1. Mereka akan berpikir ulang untuk melawan aturan. Apalagi kalau bukan sanksi. Tentunya, hal ini perlu di dukung ketegasan aparat kepolisian bila menemukan pelanggaran.

Kembali pada langkah untuk mengatasi kemacetan, pengentasan kemiskinan tak masuk sebagai bagian integralnya. Pengentasan kemiskinan tak mendapat porsi sebagai solusi kemacetan. Pengentasan kemiskinan hanya dipandang dari sisi kesejahteraan an sich yang notabene jadi barang langka di negeri ini. Karena itu, upaya mengurangi angka kemiskinan harus dilakukan segera. Langkah tersebut dapat menimbulkan efek multiplayer terhadap masalah perkotaan.

Berkurangnya jumlah angka kemiskinan tentu saja akan mengurangi joki 3 in 1. Menjadi joki bukanlah suatu keinginan, tapi bagian dari keterpaksaan. Para pengendara roda empat pun akan berpikir panjang menggunakan kendaraannya bila berpenumpang kurang dari tiga orang. Joki tak ada, pengendara lebih berpikir panjang langgar aturan, dan tentu saja yang paling penting, kemiskinan dapat terhapus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s