Andai Obama Orang Republik (?)

Posted: 30 Maret 2009 in Hubungan Internasional

Fenomena “Obama” yang melanda hampir seluruh dunia pada dasarnya bukan karena faktor usia. Konteks politik AS tak bisa lenyap dalam kontestasi dan konstelasi politik pasangan Obama-Biden (Partai Demokrat) dengan Mc Cain-Palin (Partai Republik).

Kemenangan pasangan dari PartaiDemokrat ini erat dengan semangat anti-perang di AS. Perang Irak yang bergulir sejak 2003 merupakan faktor utama semangat untuk memilih kepemimpinan baru. Semangat untuk mengakhiri perang yang dinilai menelan biaya dan korban jiwa sangat besar sepanjang sejarah AS.

Kerinduan lahirnya kepemimpinan baru juga melanda negara-negara yang awalnya mendukung kebijakan pre-emptive AS terhadap isu terorisme. Inggris dan Australia merupakan contoh nyata besarnya arus perubahan kebijakan anti-teror mereka.

Berawal dari Inggris, kekalahan Tony Blair atas Gordon Brown jadi bentuk nyata resistensi terhadap Perang Irak. Tony Blair dari Partai Buruh yang jadi pendukung setia Bush Jr. tersungkur akibat kebijakan perang mereka.

Begitu pula dengan kepemimpinan John Howard di Australia yang harus terhenti. PM Australia ini harus menerima kekalahan dari Kevin Rudd yang secara nyata menentang Perang Irak.

Besarnya harapan untuk mengakhiri invasi di Irak tak lepas dari gelombang protes masyarakat dunia. Apalagi ditambah dengan terungkapnya penyiksaan di penjara Abu Ghraib semakin yang melanggar nilai kemanusiaan. Selain itu, tak terbuktinya tuduhan atas keberadaan senjata pemusnah massal semakin memerkuat penghentian invansi.

Dalam konteks Amerika, Perang Vietnam pada dekade 1960-an dapat jadi rujukan. Perang tersebut membawa implikasi menguatnya arus perubahan kepemimpinan di negeri adidaya ini.

Kepemimpinan baru untuk mengakhiri perang juga pernah terjadi dalam sejarah AS. Richard Nixon dari Partai Republik berhasil menang dalam pemilihan Presiden 1968. Kemenangan tersebut tak lepas dari rencana Nixon untuk menarik pasukan AS dari Vietnam dan meningkatkan ketertiban dalam negeri. (Howard Cincotta ed., 1994: 356).

Sejarah pun berlanjut pada era Nixon. Janji Nixon untuk menarik pasukan ternyata baru dipenuhi setelah ia terpilih untuk kedua kalinya. Demonstrasi anti-perang terus terjadi hingga pasukan AS ditarik pada 1973.

Pada pemilihan 1976, calon dari Partai Republik pun harus menelan pil pahit akibat kebijakan Nixon dan skandal watergate. Jimmy Carter dari Partai Demokrat akhirnya menang atas Henry Ford yang berasal dari Partai Republik.

Kemenangan Obama kali ini merupakan bentuk repitisi sejarah AS. Kemenangan ini lebih karena besarnya sentimen anti perang dan keinginan kuat menarik pasukan AS dari Irak.

Obama dalam hal ini tak ubahnya Nixon pada Pilpres 1968. Dalam politik kontemporer, kekalahan Howard (Australia) dan Blair (Inggris) yang notabene sekutu AS dalam Perang Irak jadi contoh nyata kemenangan kelompok anti perang.

Semangat anti perang jadi rujukan keinginan lahirnya kepemimpinan baru di AS, bukan faktor usia Obama maupun warna kulitnya. Cerita akan beda andaikan Obama calon dari Republik dan Mc Cain dari Demokrat. Apakah Obama menang karena faktor usia yang sangat muda?

*tulisan lama yang terserak dan baru ditemukan*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s