“Berharaplah” Kepada Obama Selagi Mampu

Posted: 30 Maret 2009 in Hubungan Internasional
Tag:, , , , , , , , , , , , , ,

Kondisi bumi Palestina yang memanas memancing simpati hampir seluruh negeri. Tak ketinggalan Indonesia. Demonstrasi maupun pernyataan para tokoh muncul menghiasi media massa agar Pemerintah segera berbuat. Bertindak untuk mendesak PBB untuk melakukan suatu action untuk akhiri kebrutalan Israel. Dalam hal ini, keberadaan AS sebagai negara pendukung Israel juga dapat sorotan tajam karena mereka hanya berdiam diri, bahkan seolah-olah mengamini kebrutalan tersebut.

Sisi gelap konflik berkepanjangan di Timur-Tengah ini membuat warga Palestina harus menanggung penderitaan amat dalam. Penderitaan akibat teror dari negara lain penganeksasi guna merebut kekuasaan bumi Palestina. Korban tak berdosa berjatuhan akibat serangan membabi-buta tentara Israel. Penduduk sipil pun harus kehilangan kesempatan mereka untuk hidup dalam damai. Namun, mereka harus berada dalam desingan peluru setiap saat.

Dengan melihat situasi seperti ini, tentu sangat relevan bila dikaitkan dengan pemilihan presiden AS beberapa waktu lalu. Terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden mengundang harapan untuk terjadinya perubahan pasca kepemimpinan Bush Jr. Harapan itu juga muncul di Indonesia. Bahkan faktor-faktor masa lalu sering dikaitkan dengan Obama yang pernah tinggal di Indonesia semasa kecilnya. Namun, banyak hal yang dilupakan masyarakat atas terpilihnya Obama.

Dalam hal ini, penulis berposisi, kemenangan Obama pada Pilpres lalu tak lepas dari sentimen anti-perang yang membesar di AS pasca invasi ke Irak 2003 lalu. Faktor ini yang menjadi dasar mengapa mayoritas warga AS memilih Obama. Sejarah pun pernah mengatakan hal sama saat pemilihan Presiden Nixon pada 1968. Sentimen anti-perang Vietnam yang besar membuat harapan semakin menggebu pula untuk mengakhirinya. Dalam kasus Obama, tentu ada hal yang layak direnungkan. Apakah Obama akan merengkuh kemengan bila ia berposisi seperti Mc Cain yang notabene berasal dari Partai Republik? Tak pernah terbesit untuk memikirkan hal ini sebelumnya ditengah gelombang euforia Obama-nia diseluruh dunia.

Serangan Israel terhadap Palestina baru-baru ini dapat jadi catatan sendiri kebijakan Obama di Jazirah Arab ke depan. Tentunya, dengan melihat ulang sejarah saat administrasi Clinton berkuasa di negeri Paman Sam. Pertanyaan besar didalamnya, apakah kebijakan AS atas konflik Israel dan Palestina akan berubah atau tetap sama saja? Euforia menjelang pilpres layak untuk dipertanyakan ulang dalam hal ini. Semua saat itu hanya melihat bagaimana Obama akan menarik pasukannya di Irak tanpa memandang sesuatu yang lebih besar atas kebijakan AS, terkait soal Israel-Palestina.

Pada masa Clinton, segenap upaya menuju terciptanya perdamaian terus berjalan. Perjanjian Oslo I (1993) dan Oslo II (1995) dilangsungkan. Namun, hal itu tak membuahkan hasil memuaskan karena melemahkan posisi Palestina saat itu. Israel masih saja dapat terus-menerus menyerang bumi Palestina meski saat itu Presiden AS dari Partai Demokrat. Apalagi sejak terbunuhnya PM Israel Yithzak Rabin oleh kaum ekstremis Yahudi. Kondisi tersebut membuat situasi konflik masuk dalam ruang eskalasi konflik tanpa diketahui kapan de-eskalasi itu bisa terjadi.

Memasuki pemerintahan pasca Clinton, AS dipimpin oleh Presiden dari Republik, George W Bush Jr. Serangan 11 September 2001 membuat peta politik dunia berubah secara menyeluruh. Terorisme dijadikan musuh bersama dengn kebijakan pre-emptive Bush. Afghanistan dan Irak merupakan contoh dari penerapan kebijakan tersebut meski pada dasarnya tak punya argumen kuat. Begitupula di Timur-Tengah. Kebijakan Presiden Bush tersebut semakin memberi Angin Israel untuk terus menekan Palestina. Dengan alasan memberantas terorisme, tentara Israel leluasa berbuat sesuka hati terhadap warga Palestina.

Pilpres pada Nopember tahun lalu membawa angin segara bagi perubahan kebijakan AS. Banyak harapan muncul atas terpilihnya Obama. Namun, banyak pula yang dilupakan. Apakah kebijakan Obama sama saja dengan pendahulu-pendahulunya? Ditelisik dari sistem politik AS, keberadaan think-thank dalam proses pembuatan politik luar negeri sangat besar. Politik luar negeri AS tak bisa lepas dari pengaruh mereka. Salah satunya keberadaan kelompok neo-konservatisme yang menguasai proses kebijakan AS.

Dengan kondisi seperti itu, sungguh riskan menaruh harapan penuh kepada Obama untuk melakukan perubahan radikal terhadap kebijakan luar negeri mereka. Terutama dalam hal konflik Israel-Palestina. Sungguh jauh dari harapan perubahan mendasar tersebut terjadi. AS tak lagi jadi sekutu abadi Israel yang secara terang-terangan melanggar kemanusiaan. Berharaplah banyak kepada Obama selagi mampu menaruh harapan dan kemudian hilang ditiup angin begitu saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s