Pemilu: Ajang Pilih “artis” Favorit (?)

Posted: 27 Maret 2009 in Politik

Pekan lalu, tahapan kampanye terbuka untuk memilih anggota legislatif dan DPD dimulai. Panggung-panggung pun didirikan untuk meramaikannya. Lapangan-lapangan penuh sesak jadwal hingga olahragawan harus mengalah. Tak ada lagi tempat bagi mereka untuk berlatih dan mengasah kemampuan.

Konvoi kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat jadi pemandangan sehari-hari. Merayakan anutan ideologi yang diwakili parpol. Entah benar tidaknya, apakah benar-benar karena dorongan ideologis atau lainnya. Kemacetan pun tak terhindarkan bila rapat akbar digelar. Jakarta akhir pekan lalu mengalami “penderitaan” karenanya. Macet dimana-mana.

Masa kampanye ini sungguh menarik perhatian masyarakat. Seolah-olah tak ingin melewatkan begitu saja hajatan lima tahunan ini. Minimal bisa mendapat kaos gratis yang berlimpah-ruah dimana-mana. Juga hiburan menarik yang jarang dipentaskan bila tak ada momentum ini. Apalagi diisi artis-artis top ibukota yang namanya sudah malang-melintang di jagat hiburan.

Seorang teman bercerita di status FB miliknya, artis-artis memenuhi kampanye. GIGI, Andra n The Backbone, Ungu, dan 3diva meramaikan kampanye hari ini di Makassar. Sungguh suguhan yang jarang terjadi bila hari-hari biasa mengadu. Tak hanya itu saja, Duo Ratu, dan Dhani Ahmad serta Mulan Jameela juga meramaikan musim kampanye ini.

Tak hanya artis-artis papan atas ibukota saja, entertain lokal pun turut menikmati limpahan berkah ini. Terutama saat kampanye sedang berlangsung di daerah. Mereka mengabarkan selebritasnya meski hanya dalam tataran lokal saja. Menghibur para peserta kampanye dengan nyanyian ataupun lainnya. Tak pelak, juru kampanye pun jadi kaum “marjinal” padahal hajatan itu milik mereka. Salah satunya adalah interest publik saat SBY kampanye. Lebih memikat alunan musik Andra n The Backbone daripada buaian sang Presiden ini.

Fenomena ini dapat jadi tolok ukur efektivitas kampanye. Dalam artian, kuantitas pengunjung saat rapat akbar digelar. Cukup besar sekali kemungkinannya, massa berjumlah banyak itu sejatinya bukan untuk mendengarkan janji-janji politik maupun program. Namun lebih pada aspek konsolasi yang hadir didalamnya. Lebih halus lagi, sekedar bisa melihat muka para para pembesar partai yang sedang berkampanye.

Keadaan demikian mengandung pertanyaan besar terkait Hajatan pemilu. Dalam bahasa ekstrim, rakyat pada dasarnya bukan memilih wakil-wakilnya. Mereka sedang menikmati serangkaian acara besar penuh selebritas. Maaf, pemilihan artis favorit pilihan pemirsa. Buktinya, massa begitu riuh-rendah saat artis-artis itu tampil, dan membalikkan muka saat para jurkam naik podium. Saat hujan melanda dan artis tampil, massa semakin heboh. Namun saat hujan turun dan jatah jurkam bicara, semua kabur menyelamatkan diri dari guyuran hujan.

Fenomena politik seperti ini semakin menegaskan proposisi Geertz atas kondisi politik di Indonesia. Geertz mengatakan, politik di Indonesia adalah panggung teater. Penuh gairah saat panggung digelar (pemilu) dan kembali lesu ketika semuanya berakhir. Sekedar hajatan belaka tanpa tindak-lanjut serta perhatian besar dari para politisi selayaknya menjelang Pemilu.

Namun, meski demikian, Pemilu tetap harus berlangsung. Entah apa bagaimana prosesnya dan begitu pula hasilnya. Pemilu merupakan konsensus bangsa yang harus dilaksanakan. Silakan masyarakat menyikapinya. Apakah dengan golput atau gunakan hak pilih semaksimal mungkin. Suka atau tidak suka pesta terus berlanjut. Andai saja tak penuhi harapan, gulingkan saja bila yang terpilih itu ternyata tak tepati janji-janjinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s