Masih Tetap Saja: Iklan Politik Bikin Pening

Posted: 27 Maret 2009 in Politik

Kepalaku dibuat cukup pening saat “dipaksa” menonton iklan-iklan politik di TV. Semuanya membeberkan keberhasilan yang telah dicapai selama berkuasa. Sungguh menyesakkan dan membuat gelisah hati ini melihat perunjukkan “konyol” itu. Penuh dengan “intrik” dan “tipuan”, seakan realitas yang ada dinihilkan (mungkin sengaja).

Mulai dari dana pendidikan, penurunan harga BBM, swasembada pangan, perdamaian, hingga keberhasilan dalam pembangunan dipertontonkan dengan telanjang. Tanpa malu. Suguhan-suguhan memuakkan itu menggema dan menghujam bak meteor runtuh dari langit. Sebenarnya miskin perhatian pada kondisi rakyat sesungguhnya.

Tulisan tentang dana pendidikan dan penurunan harga BBM sudah ada dalam catatan sebelumnya (lihat note: Paradoks Iklan PD dan PG). Namun, ternyata masih ditambah lagi dengan iklan-iklan klaim keberhasilan lainnya. Sungguh membuat semakin memuakkan ditengah ketakpastian nasib rakyat yang semakin lama mengalami penindasan.

Semua obral janji. Semua mengklaim keberhasilan. Atau “mencela” lainnya. Namun, Itu hanya pemanis saja. Pemilik sesungguhnya negeri ini (rakyat) ternyata diabaikan begitu saja kala tak dibutuhkan. Dibiarkan membusuk tatkala musim politik sedang sepi. Dimana kau berada saat rakyatmu benar-benar membutuhkan? Kami bukanlah “sapi perahan” seperti bayanganmu.

Janji-janji politik maupun klaim keberhasilan tak membumi. Hatiku pun hancur lebur saat klaim keberhasilan swasembada beras menggema di seantero nusantara lewat iklan. Bangsa ini terlihat tak berdaya ditengah kepungan masalah mendasar yang selalu menghantui. Banyak sekali “hantu-hantu” yang membuat rakyat semakin tak berdaya oleh sistem dan struktur yang ada. Itu nyata dialami warga semburan lumpur panas Lapindo yang terus diabaikan penguasa.

Kembali pada persoalan awal. Iklan swasembada beras oleh Partai Demokrat sangat menohok dan mengiris rasa keadilan. Oke, anggap saja swasembada itu benar adanya. Namun, mengapa pemilik sesungguhnya negeri ini harus mengalami kelaparan. Bahkan beberapa diantaranya harus meregang nyawa. Anak-anak mengalami gizi buruk, dan bahan makanan tak terbeli meski, katanya, berswasembada. Mengapa krisis pangan terjadi? Mati di dalam lumbung padi.

Petani. Iklan mengatakan sangat bahagia dengan kondisi selama ini. Apakah benar adanya? Jujur saja, desa adalah asalku, tak dapat kupingkiri kenyataan ini. Petani-petani di desaku ternyata jauh dari gambaran iklan “busuk” itu. Harga murah saat panen, tenaga pun tak dinilai sebagaik modal. Mereka terus ditindas, tetap miskin. Apa artinya swasembada bila petani masih miskin? Apa artinya swasembada bila petani terus diinjak? Tak bisa menikmati jerih payahnya selama memelihara kehidupannya, di sawah yang selalu jujur. Apakah swasembada itu hasil dari penghisapan?

Swasembada beras. Banyak dari saudara-saudara kita yang harus cukup menonton “keberhasilan” ini. Buruh tetap tak bisa membeli pangan dengan selayaknya. Bahkan mereka harus menelan pil pahit. Juga lainnya yang harus cukup gigit jari dengan keadaan ini. Apakah tak pernah mencatat kasus kematian gara-gara kelaparan? Apakah banyaknya anak-anak kurang gizi sebagai keberhasilan juga? Ah, sungguh kontras dan tak menyentuh kondisi sebenarnya.

Ada juga yang mengklaim sebagai pioneer pembangunan. Menyatakan diri sebagai pendorong terjadinya kemajuan di negeri ini. Kemajuan dan pembangunan penuh kepalsuan. Hanya dapat dirasakan segelintir orang saja, lainnya harus menyingkir. Kaya semakin kaya, kemiskinan memang benar turun, turun jadi semakin miskin. Lihat, betapa banyak yang harus tergusur dari kehidupan. Berapa banyak yang harus jadi korban pembangunan. Hanya mempertontonkan kemewahan-kemewahan yang sebenarnya kapitalisme dengan telanjang.

Begitu pula dengan lainnya. Ada yang mengatakan bangsa ini masih miskin, penuh dengan penderitaan. Ada yang mengatakan akan berbuat sesuatu dengan fokus pada bidang-bidang tertentu. Namun, semuanya nihil, hanya berucap belaka. Tak ada langkah nyata yang hendak diperbuat, sekedar memaparkan saja tanpa berusaha menjelaskan. Tak ada sikap yang muncul tentang kondisi negeri ini. Ya, mungkin hanya ingin menarik simpati dan empati saja.

Banyak keganjilan muncul dari semerbak iklan-iklan politik. Muncul begitu saja ketika membutuhkan rakyat. Diam membisu saat panggung politik sudah ditutup. Menutup diri dan tak sejago saat panggung sudah dirobohkan. Maklum, urat saraf memikirkan nasib rakyat sebatas itu saja. Hanya saat rakyat sedang dibutuhkan.

Benar adanya penyataan sastrawan besar negeri ini, Pramoedya Ananta Toer. Rakyat negeri ini sebenarnya bukan memilih pemimpin bangsa. Mereka bukanlah pemimpin, hanya pembesar dan penguasa. Malang benar nasibmu, tak ada yang memimpin. Mereka hanya menjadi pembesar dan penguasa yang siap menancapkan penderitaan dengan macam cara. Namun, sepanjang republik ini ada, harapan tetap tak akan lenyap. Entah kapan itu terwujud: besok, lusa, atau lain hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s