Kau Harus Menunggu! (Sisi Lain Kartini)

Posted: 27 Maret 2009 in Politik

Mendengar nama perempuan besar dalam sejarah bangsa ini, seluruh panca indera kita akan tercerap pada perjuangan kesetaraan. Suatu perjuangan untuk mengangkat derajat perempuan melalui emansipasi ditengah kungkungan penindasan sistem sosial. Kita juga akan terbius karya agungnya, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Monumen agung tentang persamaan hak perempuan dan laki-laki di bumi pertiwi.

Nama besar Kartini ternyata hanya dikenal sepintas saja. Sejak masuk bangku sekolah, kita pasti dijejali dengan sejarah perjuangan bangsa, termasuk Kartini. Ia dikenang karena “pemberontakaannya” terhadap sistem sosial yang menjadikan perempuan sebagai kelompok sub-altern, an sich! Sejarah besarnya seringkali ditutupi tabir kekuasaan para pembesar-pembesar kekuasaan yang tak layak disebut sebagai pemimpin. Diredam sedemikian rupa agar sejarahnya tak jadi pelajaran dan dapat membangkitkan perlawanan kaumnya.

Kesadaran akan sikap kartini juga, terus terang,ku ketahui baru-baru saja. Tabir pengetahuan yang terbangun selama “perjalanan” ternyata sangat kuat terhadap perempuan perkasa ini, tapi goyah juga akhirnya. Ternyata kesadaran kelas sudah menghampiri dirinya. Apalagi kalau bukan tentang kapitalisme yang rakus dan ia katakan sebagai penjahat terbesar.

“Aku sangat bersimpati dengan cita-cita kaum sosialis dan aku yakin bahwa benar sekali kalau dalam rapat untuk membentuk korps polisi, dikatakan, bahwa penjahat terbesar tidak terdapat di kampung-kampung, tetaoi di Heeren dan Keizersgracht…”

De Hollandsche Leile di negeri Belanda yang memuat tulisan Kartini tersebut. Mengapa Heeren dan Keizersgracht jadi tempat penjahat terbesar? Tak lain karena kedua tempat tersebut merupakan perkampungan kaum kapitalis besar Belanda kala itu. Selain itu dalam tulisannya yang belum diumumkan, memuat jawaban atas permintaan Kartini. “Sungguh sayang buku Marx belum diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda! Kau harus menunggu!” (Pramoedya, Hoakiau, 1998: 131-132).

Dalam tutur Pramoedya, Kartini bisa dikatan sebagai perempuan sosialis pertama di Indonesia. Ternyata adik kandung Sosrokartono ini bukan sekedar pejuang emansipasi perempuan, juga ibu dari gerakan nasional, dan kebangkitan nasional. Sungguh malang nasib perempuan besar ini yang hanya dikenang hanya sebagai pejuang emansipasi belaka.

Kebesaran Kartini nan agung tak pula karena partai politik atau barisan atau kuat di belakangnya. Ia mati muda, 25 tahun, sangat singkat. Namun mampu menguasai sejarah negeri ini. Mampu menganalisa permasalahan bangsa dengan jernih. Penuh dengan sentuhan-sentuhan humanis tanpa harus mendiskreditkan kelompok atau golongan lainnya.

Tak hanya itu saja, Pramoedya juga memaparkan bacaan-bacaan Kartini yang menggugah kesadarannya untuk mengutuk ketidakadilan. Buku Uncle Tom’s Cabin yang menggerakan perlawanan anti-rasisme di AS ia lahap. Karangan pemimpin sosial-demokrat Jerman F. August Bebel yang berjudul Wanita dan Sosialisme telah mengubah pandangan sosial-politiknya. Juga buku-buku lainnya yang menyadarkannya tentang perlawanan. Kartini ternyata tak hanya berjubel dengan jurusan keputrian, atau sekedar menulis surat kepada sahabatnya di Belanda. Bukan hanya menerbitkan Habis Gelap Terbitlah Terang, juga menggugah kesadaran kejahatan imperialisme dan kapitalisme.

Potret besar pahlawan dengan umur cukup singkat ini sungguh bertolak belakang dengan mimpinya. Kondisi yang ia harapkan tentang Indonesia yang ia idamkan. Kemerdekaan yang telah diraih ternyata tak mampu ditampung oleh elit-elit politik. Jauh dari pemikiran perempuan yang hidup kurang dari seabad lampau dengan segala keterbatasannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s