Menyisir Kata “Merdeka”

Posted: 5 Desember 2008 in Ekonomi-Politik

Banyak yang berubah ketika menyusuri sudut ibukota akhir-akhir ini. Pemandangan tak biasa muncul menghiasi wajah Jakarta dengan segala keangkuhannya. Tampak dua warna menonjol menghiasi setiap mata memandang, merah dan putih.

Menjadi mahfum dengan suasana demikian karena proklamasi kemerdekaan, yang katanya, ke-63 diperingati. Semua berlomba-lomba merayakan dengan berbagai cara. Mulai dari memasang bendera dwi warna di depan rumah hingga menghiasi sudut sempit jalanan kampung dengan ratusan bendera plastik.

Semua terhipnotis untuk merayakan gegap-gempita agenda tahunan ini.Serasa ada yang tumbuh dalam segenap jiwa untuk turut dalam keceriaan. Sungguh jadi hiasan luar biasa dalam hingar-bingar ketakpastian di negeri ini.

Keceriaan itu dapat terlihat ketika malam menampakkan aslinya di suatu kampung daerah Kebayoran Lama. Tua-muda gugur gunung memasang setiap untai dwi warna yang dulu diperjuangkan habis-habisan. Tanpa rasa lelah dan nestapa hingga malam menggenapi takdirnya.

Namun, dibalik semua pesta pora itu ternyata ada ruang kosong substansial. Apa makna dari semua perayaan simbolik itu? Bagaimana ia masuk dalam sanubari untuk menerjemahkan setiap huruf yang terpampang? Sautu paradoks di negeri yang menyatakan dirinya merdeka.

Melihat itu semua, mulai dari aktivitas hingga rasa, ilusi kemerdekaan memang merasuk hingga tulang sum-sum. Seperti hamba yang tertidur pulas bermimpikan kemerdekaan. Hanya lewat mimpi merdeka bisa dirasakan dan tertanam sampai ke akar-akarnya.

Ilusi kemerdekaan ini jadi obat mujarab meski sebenarnya hanya sebuah enigma. Bentuk ekstase yang terbentuk secara arbiter dari konstruksi masa lalu dengan sekarang. Melang-lang buana hingga pada suatu tingkat kesadaran yang bisa digugah lewat simulasi.

Cantiknya sang waktu pun menggugah semua untuk bicara apa itu nasionalisme. Berkata apa itu kemerdekaan. Padahal hari-harinya senantiasa tak pernah bicara apa makna didalamnya. Malahan seringkali bertindak sebaliknya. Menjual setiap keping harga diri bangsa ini untuk meraup untung.

Memang kemerdekaan punya relativitas makna cukup tinggi. Tanyakan pada orang miskin, mereka akan mendefinisikan kemerdekaan itu adalah nasi. Tanyakan pada orang-orang di pedalaman Papua, kemerdekaan itu bisa berarti babi dan singkong. Tanyakan pada seorang pemikir, kemerdekaan itu punya makna yang cenderung eksistensial.

Cukup beragam untuk tahu apa arti merdeka dan tak cukup kata untuk melukiskan semua pada kanvas pemikiran. Siang dan malam tak akan pernah mampu menaungi setiap hati yang ingin menorehkan makna merdeka.

Namun, merdeka bukanlah makna plural. Tetap punya makna tunggal yang tak bisa diganti dengan kata apa pun. Jika Roosevelt mengatakan ada empat jenis kemerdekaan hakiki, tapi masih belum menaungi secara komprehensif. Keempatnya masih bergelut dengan kesemuan yang belum bisa memberi makna pada lainnya.

Lihatlah ke belakang layar sejarah kita sendiri. Founding fathers negeri ini pada dasarnya telah mampu memberi makna merdeka dengan tegas. Tan Malaka mengatakan jika merdeka itu tanpa ada yang kurang, merdeka 100 persen. Merdeka bukan sekedar ”bebas” tapi sebenarnya ada ganjalan didalamnya.

Lainnya mengatakan merdeka itu menjadi bebas. Bebas melakukan apa pun sesuai keinginan tanpa mengurangi kebebasan lainnya. Freedom to be free. Sukarno mengatakan hal itu sebagai kemerdekaan sesungguhnya.

Melirik larik-larik sejarah bangsa ini, angan-angan para pendiri bangsa tersebut sungguh jauh panggang daripada api. Tengok para korban lumpur Lapindo di Sidoarjo. Kebebasan, hak asasi sebagai manusia bermartabat diinjak-injak oleh perselingkuhan kekuasaan dengan kapital.

Negeri yangbegitu “kaya” ini seolah-olah jadi duplikat kekusaan modal-finansial. Cita-cita para pendiri bangsa tertiup angin hingga siapa pun tak bisa mendengarnya. Ironi di negeri yang menyatakan dirinya merdeka.

Apa lacur, hutang pun menumpuk bak gunungan sampah di Bantar Gebang yang berbau apek. Jangan pernah bertanya berapa hutang republik ini yang harus ditanggung rakyat. Namun, tak sepeser pun rakyat menikmati “limpahan” uang tersebut, limited edition. Hingga 2033, bangsa ini harus membayar utang senilai sekitar 65 triliun meski ”tak tahu” untuk apa itu.

”Negara yang meminjam akan jadi budak peminjam,” kata Tan Malaka ketika melukis cita-cita bumi nusantara.

Masih banyak lagi hal lain yang terus membuat kita menangisi nasib negeri ini jika semuanya terbuka. Tangis maupun ratapan tak akan pernah berhenti selama belum berani berkata, ”tidak!” dengan martabat.

Sesungguhnya, kepalsuan kemerdekaan telah tersaji dalam meja-meja pikiran. Merdeka hanya dalam kata, tersapu jika angin bertiup. Selamat ”berilusi” dengan kemerdekaan meski cuma sekedar ilusi.

Semoga kabar duka ini terus menggelanyut dalam ingatan. Ingatan yang akan memberi harapan karena disetiap huruf kata ”merdeka” kita masih bisa menyiasatinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s