Dalam pelarian dari kejaran rezim Suharto, Wiji Thukul ternyata tak berdiam diri. Salah satu korban penghilangan paksa 1997-1998 ini ternyata terus menulis puisi-puisi perlawanan terhadap rezim fasis-militeristik ini. Puisi pelarian ini tidak dia sebar atau bacakan kepada khalayak seperti karyanya yang lain. Dia titipkan kepada sahabatnya, Yosep Adi Prasetyo alias Stanley, untuk disimpan.
“Saya bertemu dengan Wiji Thukul beberapa kali. Saya mendapatkan kumpulan puisi ini saat-saat terakhir kali sebelum dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, mengingat Jakarta dinilainya sudah tidak aman,’ tulis Stanley di Jurnal Dignitas Volume VIII No. 1 Tahun 2012 yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam).
baca selengkapnya…








