Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Puisi’

Dalam pelarian dari kejaran rezim Suharto, Wiji Thukul ternyata tak berdiam diri. Salah satu korban penghilangan paksa 1997-1998 ini ternyata terus menulis puisi-puisi perlawanan terhadap rezim fasis-militeristik ini. Puisi pelarian ini tidak dia sebar atau bacakan kepada khalayak seperti karyanya yang lain. Dia titipkan kepada sahabatnya, Yosep Adi Prasetyo alias Stanley, untuk disimpan.

“Saya bertemu dengan Wiji Thukul beberapa kali. Saya mendapatkan kumpulan puisi ini saat-saat terakhir kali sebelum dia memutuskan untuk pindah ke luar kota, mengingat Jakarta dinilainya sudah tidak aman,’ tulis Stanley di Jurnal Dignitas Volume VIII No. 1 Tahun 2012 yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam).
baca selengkapnya…

Sama Rasa dan Sama Rata

Sair inillah dari pendjara,
Waktoe kami baroe dihoekoemnja,
Di-Weltevreden tempat tinggalnja,
Doea belas boelan poenja lama,

Ini boekan sair Indie Weerbaar,
Sair mana jang bisa mengantar,
Dalam boei jang tidak sebentar,
Membikin hatinja orang gentar,

Kami bersair boekan krontjongan,
Seperti si orang pelantjongan,
Mondar mandir kebingoengan,
Jaitoe pemoeda Semarangan,

Doeloe kita soeka krontjongan,
Tetapi sekarang soeka terbangan,
Dalam S.I. Semarang jang aman,
Bergerak keras ebeng-ebengan.
baca selengkapnya…

Kumpulan Puisi Wiji Thukul

Posted: 4 Agustus 2011 in Puisi
Kaitkata:, ,

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

tak bisa lagi ditahan-tahan

Solo, Sorogenen,
12 Agustus 1988
baca selengkapnya…

Bunuhlah Dengan Kata

Posted: 24 Maret 2011 in Puisi
Kaitkata:, , , , , ,

Sastra hidup dalam keterombang-ambingan dunia
Sastra juga hidup dalam setiap kata yang terucap
Tiap kata punya makna dan sejarah
semuanya terhampar untuk ditafsirkan

Tak hanya sastra, semua yang mengandung kata
Mereka hidup untuk diketahui
Baik-buruknya dunia bisa tampak jelas
Tergantung, apakah hendak diucap atau tidak
Ingin seluruh dunia tahu atau hanya menyimpannya

Kehidupan tak akan pernah ada tanpa kata
Perang pun dimulai dari kata, bukan senjata
Bahasa hanya membantu kata
Bahasa hanya diam tak berkata-kata

Jika ingin dunia tahu tentangmu, berkata-kata lah
Jika dunia ingin kau kuasai, tembakkan kata-katamu
Jika dunia ingin kau terabas, bahasakan kata-katamu
Jika seseorang ingin kau kutuk, gunakan kata untuk membunuhnya

Pembakar Buku

Posted: 20 Mei 2010 in Puisi
Kaitkata:, ,

Oleh: Rama Prabu

Buku, musuhnya api
Buku, musuhnya rayap
Buku, musuhnya lembab
Buku, musuhnya sebab
Buku, musuhnya musabab
Buku, musuhnya profesor anti buku
Buku, musuhnya agama satanic
tujuh musuh, tujuh rupa
tujuh jiwa, tujuh kuasa
ini kunci mati!
tapi, kemana kau bawa lari kerta-kertasku?
padahal aku tetap rindu!
kenapa kau bakar semua, padahal ada tapakku yang tak bisa kau hapus pupuskan
jenaka punakawan, sia-sia hidup kala laku tak berilmu
seperti dirimu!
ingatlah jiwa buku takkan layu di telan ragu, seperti hidupmu!
mereka telah hidup bersama taring-taringnya, bersama cakar-cakarnya
tapi kenapa kau tak bersikap bijak?
kita kan teriak, buku lawan buku
satu lawan satu
seteru lawan seteru
baku buku dengan baku buku
ini hidup sebelum mati, ini manusiawi sebelum sorgawi
jadi, jangan mati sebelum mati!
baca selengkapnya…