Potret buram pendidikan di Indonesia salah satunya terjadi di Pulau Bawean, sepelemparan batu dari Pulau Madura. Sekolah di Pulau ini ada yang cukup mengenaskan. Fasilitas pendidikan jauh dari standar, bisa dikatakan tidak layak. Tembok jebol, beralaskan tanah, dan atap bangunan sudah dimakan umur. Bagaiamana mungkin anak-anak itu bisa belajar dengan maksimal jika kondisi gedung sekolahnya sangat mengenaskan?
baca selengkapnya…
Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘buku’
Mana Buku dan Guruku
Posted: 8 November 2012 in ArbiterKaitkata:anak-anak, buku, dinding, fasilitas, gedung, guru, konstitusi, mana buku, mana guruku, masa depan, Negeri, pendidikan, pendidikan di indonesia, pojok, Pulau Bawean, Pulau Kangean, Pulau madura, SD, tanah, tembok, uud 1945
Belajar Demokrasi Sejak SD
Posted: 5 November 2012 in ArbiterKaitkata:buku, cawu, demokratis, foto, kebersamaan, kelor, kenangan, ketua kelas, masak, pemilihan, perangkat, perpustakaan, rapat, SDN Tempeh Tengah 4, sekolah dasar, suksesi
Perangkat untuk pengaturan kelas pasti ada. Ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dibentuk dengan pemilihan secara demokratis. Begitu pula di kelas ku ketika Sekolah Dasar. Kami tiap Catur Wulan senantiasa mengadakan pemilihan ketua kelas. Tiap Cawu pula lah kelas ramai dengan huru-hara dukungan. Demokrasi mini dengan periode jelas, bukan “seumur hidup” selama setahun.
Setelah Ketua kelas terpilih, sang guru kemudian membentuk seksi-seksi dibawahnya yang nantinya membantu kerja ketua kelas. Bahkan kelas kami pun memunyai perpustakaan mini yang tiap harinya ada penjaganya. Tak banyak koleksi di dalamnya, setidaknya ada usaha untuk membudayakan membaca. Warga kelas kami boleh meminjam buku-buku di perpustakaan yang jumlahnya sangat terbatas itu.
baca selengkapnya…
Tidak Membakar Buku
Posted: 28 Juni 2012 in Sosial-BudayaKaitkata:buku, membakar, menghina nabi muhammad, tidak
Pada masa kolonial Belanda, buku yang menghina Nabi tidak dibakar.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI
BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad. Pada 13 Juni lalu, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu.
Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi namun tanpa pengerahan massa. Yang ada: polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode. Peresensinya mengutip buku tersebut: “Karena itulah Hitler makin lama makin yakin sendiri bahwa ia kebal dan besar … ia sendiri lalu menjadi lebih besar sedikit, mungkin semacam Mohamed dengan ‘pedang di sebelah tangannya dan buku Mein Kampf di tangan lainnya’…”
baca selengkapnya…
Ketika Buku Jadi Konstitusi
Posted: 23 Agustus 2011 in Hubungan InternasionalKaitkata:buku, Khadafi, konstitusi, Libya, sosialisme
Sebuah konstitusi negara lazimnya disusun dengan cermat dan memuat aturan pokok bernegara. Konstitusi tersebut disusun berdasarkan latar belakang dan ciota-cita pendirian negara. Namun, rumus tersebut tidak berlaku di Libya selama Khadafi berkuasa sejak September 1969. Konstitusi adalah dirinya dengan beragam argumen yang menyesatkan. Seperti adagium sistem kerajaan tradisional, the king can do no wrong.
Dua Kitab Hijau (Kitab Akhdar) dan buku The Third International Theory jadi dasar Khadafi dalam menjalankan roda pemerintahan Libya. Ketiga terbitan tersebut secara sepihak diresmikan sebagai konstitusi Libya. Tentunya, hal ini sangatlah bertolak belakang dengan logika umum tentang konstitusi suatu negara.
baca selengkapnya…
Buku, musuhnya api
Buku, musuhnya rayap
Buku, musuhnya lembab
Buku, musuhnya sebab
Buku, musuhnya musabab
Buku, musuhnya profesor anti buku
Buku, musuhnya agama satanic
tujuh musuh, tujuh rupa
tujuh jiwa, tujuh kuasa
ini kunci mati!
tapi, kemana kau bawa lari kerta-kertasku?
padahal aku tetap rindu!
kenapa kau bakar semua, padahal ada tapakku yang tak bisa kau hapus pupuskan
jenaka punakawan, sia-sia hidup kala laku tak berilmu
seperti dirimu!
ingatlah jiwa buku takkan layu di telan ragu, seperti hidupmu!
mereka telah hidup bersama taring-taringnya, bersama cakar-cakarnya
tapi kenapa kau tak bersikap bijak?
kita kan teriak, buku lawan buku
satu lawan satu
seteru lawan seteru
baku buku dengan baku buku
ini hidup sebelum mati, ini manusiawi sebelum sorgawi
jadi, jangan mati sebelum mati!
baca selengkapnya…
Lawan Buku dengan Buku, Bukan Pelarangan
Posted: 26 Desember 2009 in PolitikKaitkata:buku, Kejaksaan Agung, membaca, pelarangan buku, penguasa
Buku adalah gudang ilmu. Buku adalah candela dunia. Slogan ini seringkali muncul di media massa dengan beragam tampilan. Intinya, mengajak semua lapisan masyarakat untuk mencintai buku, gemar membaca. Tidak menyia-nyiakan waktu dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.
Slogan yang sering muncul dengan media iklan layanan masyarakat itu ternyata mendapat respon terbalik. Penguasa melarang kita membaca buku. Penguasa membatasi kita meniliti setiap huruf yang tercetak pada lembaran-lembaran kertas itu. Penguasa “tak ingin” rakyatnya berpengetahuan.
baca selengkapnya…









