Arsip untuk ‘Sosial-Budaya’ Kategori

Oleh: Abimardha Kurniawan*

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan terkemuka Indonesia. Hal tersebut sudah mahfum di benak masyarakat pecinta sastra (di) Indonesia. Bukan hanya karena namanya perah tercatat sebagai kandidat kuat peraih hadiah Nobel bidang sastra, namun juga karena keterlibatannya dalam membongkar renik sejarah bangsa ini. Sejarah menjadi spirit utama karya-karyanya. Kita mungkin akan selalu teringat pada salah satu jargon bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak buta sejarah, lebih khusus sejarah bangsanya sendiri. Atau juga ungkapan “perjuangan manusia adalah perjuangan melawan lupa”. Jadi, Soekarno pun berujar dan berpesan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Dalam keterlibatannya dengan bahan-bahan sejarah, Pram coba menelaah unsur terpenting yang membangun sejarah, yakni manusia. Dengan begitu, Pram juga melibatkan diri dengan sebuah pertanyaan besar dalam filsafat sejarah: apakah manusia yang membentuk sejarah, ataukah sejarah yang membentuk manusia. Ignas Kleden (2004) pernah menangkap keunikan sosok Pram dalam teka-teki tersebut. Ia melihat bahwasanya tokoh-tokoh dalam karya Pram adalah manusia-manusia yang hidup dalam gelombang besar sejarah. Akan tetapi tokoh-tokoh itu bukanlah sosok yang mudah terombang-ambing oleh kekuatan sejarah hingga kemudian tersungkur begitu saja dalam gelombang tersebut dan terdampar di pantai peradaban. Tokoh-tokoh Pram adalah manusia yang memiliki daya untuk menolak dan resisten. Aksi-aksi yang muncul dalam dari dalam tubuh sejarh itu, ditanggapi dengan reaksi yang cerdas dan bernas. Seringkali mereka melibatkan diri pada yang ada (das sein), yakni segala fenomena sosial yang melingkupi tokoh-tokoh itu, dan yang seharusnya (das sollen), yakni suatu kondisi yang diidealkan tokoh-tokoh protagonisnya. Kendati dalam kebanyakan karyanya, tokoh-tokoh tersebut selalu mengalami kekalahan eksistensial.
baca selengkapnya…

Sejak 16 Januari 2013, berita-berita sudah mengabarkan adanya banjir di Jakarta. Banjir terjadi di daerah yang sedari dulu menjadi langganan air bah ini. Saya pun menyimak berita itu tanpa ada firasat apa pun tentang Jakarta. Masih menilai sebagai hal “wajar” karena daerah-daerah tersebut memang sering sekali terkena banjir.

Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 waktu Moskow (GMT +4 atau lebih lambat 3 jam dari WIB), saya pun beraanjak ke peraduan. Sebelum benar-benar tertidur, saya sesekali membaca berita dari tanah air tentang situasi Jakarta terkini. “Masih belum ada perubahan, normal,” gumamku. Setelah itu aku pun tak tahu karena sudah terbawa mimpi di tengah dinginnya Moskow.
baca selengkapnya…

Professor Sikorsky Sumber: http://www.lestari.info

Hanya sepelemparan batu dari Lapangan Merah Moskow, beberapa orang Rusia berkumpul membicarakan nusantara. Mereka mendiskusikan Indonesia dari berbagai aspek dengan beragam sudut pandang. Saat itu, forum diskusi ini membicarakan sastra Indonesia, yaitu novel berjudul Hikayat Siti Mariah karya Haji Mukti.

Professor Sikorsky mendapat kesempatan untuk menjabarkan isi novel tersebut. Dia menjelaskan beberapa aktor-aktor yang terlibat dalam novel dengan editor Pramoedya Ananta Toer. Tak luput pula konteks sosial, budaya, dan politik yang diceritakan didalamnya. “Novel ini sangat menarik sekali,” katanya.
baca selengkapnya…

Sejarah mencatat, akar dari konflik sosial bukanlah berawal dari persoalan besar. Masalah kecil yang dimodifikasi sedemikian rupa oleh yang berkepentingan menjadikan konflik tersebut meledak. Hal ini tentu saja amat sangat disayangkan karena ulah segelintir orang tersebut menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat.

Perang Salib yang berlangsung cukup panjang pada dasarnya tak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan agama. Perang ini terjadi akibat keserakahan segelintir orang saja dari kedua belah pihak. Menurut Karen Amstrong (2003), perang ini terjadi akibat ulah segelintir bangsawan di kedua belah pihak yang ingin eksistensinya diakui. Mereka gunakan sentimen agama guna mobilisasi massa.
baca selengkapnya…

“Apa sih beda puasa di Rusia dan di Indonesia? Toh sama saja kan, keduanya ada di muka bumi?” Pertanyaan seperti ini memang wajar memang wajar jika muncul ke permukaan. Antara Indonesia dan Rusia memang tak ada bedanya, sama-sama di bumi. Namun, terkait Ramadhan, ada banyak hal yang membedakan antara Indonesia dan Rusia. Tak hanya soal kultur saja, juga paling mencolok yakni lamanya waktu berpuasa.

Pergantian siang dan malam di Indonesia senantiasa berjalan konstan. Perbedaannya tidak terlalu mencolok. Kalau Ramadhan, rata-rata kita berpuasa sekitar 14 jam per hari. Hal itu hampir senantiasa terjadi dengan anomali yang yang sekiranya bisa “diabaikan”. Namun, rumus seperti ini tak berlaku di Rusia. Posisi garis lintang Rusia yang cukup tinggi membuat lamanya siang dan malam jauh berbeda. Semuanya tergantung musing yang sedang berlangsung.
baca selengkapnya…

Pada masa kolonial Belanda, buku yang menghina Nabi tidak dibakar.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI

BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad. Pada 13 Juni lalu, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu.

Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi namun tanpa pengerahan massa. Yang ada: polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode. Peresensinya mengutip buku tersebut: “Karena itulah Hitler makin lama makin yakin sendiri bahwa ia kebal dan besar … ia sendiri lalu menjadi lebih besar sedikit, mungkin semacam Mohamed dengan ‘pedang di sebelah tangannya dan buku Mein Kampf di tangan lainnya’…”
baca selengkapnya…

Sumber: Okezone.com

Indonesia bukanlah negara yang baru dikenal oleh negara Rusia maupun rakyatnya. Kenangan manis kemesraan masa lalu masih melekat kuat hingga saat ini. “Keterputusan” hubungan emosional di era rezim Suharto tak menghapus memori yang terlanjur melekat kuat tersebut. Indonesia tetap jadi bagian dari sejarah sejarah masyarakat Rusia yang pernah merasakan manisnya persahabatan tersebut, bahkan generasi setelah mereka.

Beda dengan negara lain, di Rusia, Indonesia tak hanya dikenal sekedar kemolekan Pulau Dewata saja. Mereka juga mengenal aspek lainnya selain Bali. Barangkali, ini disebabkan oleh kedekatan hubungan Indonesia-Rusia (saat itu bernama Uni Soviet) pada dekade 1950-an hingga medio 1960-an. RSUP Persahabatan, Tugu Tani, dan Stadion Gelora Bung Karno merupakan contoh nyata kedekatan hubungan dua negara ini. Selain itu, akhir era 1950-an, ribuan pelajar Indonesia belajar pada banyak universitas di Rusia.
baca selengkapnya…