Oleh: Abimardha Kurniawan*
Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan terkemuka Indonesia. Hal tersebut sudah mahfum di benak masyarakat pecinta sastra (di) Indonesia. Bukan hanya karena namanya perah tercatat sebagai kandidat kuat peraih hadiah Nobel bidang sastra, namun juga karena keterlibatannya dalam membongkar renik sejarah bangsa ini. Sejarah menjadi spirit utama karya-karyanya. Kita mungkin akan selalu teringat pada salah satu jargon bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak buta sejarah, lebih khusus sejarah bangsanya sendiri. Atau juga ungkapan “perjuangan manusia adalah perjuangan melawan lupa”. Jadi, Soekarno pun berujar dan berpesan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Dalam keterlibatannya dengan bahan-bahan sejarah, Pram coba menelaah unsur terpenting yang membangun sejarah, yakni manusia. Dengan begitu, Pram juga melibatkan diri dengan sebuah pertanyaan besar dalam filsafat sejarah: apakah manusia yang membentuk sejarah, ataukah sejarah yang membentuk manusia. Ignas Kleden (2004) pernah menangkap keunikan sosok Pram dalam teka-teki tersebut. Ia melihat bahwasanya tokoh-tokoh dalam karya Pram adalah manusia-manusia yang hidup dalam gelombang besar sejarah. Akan tetapi tokoh-tokoh itu bukanlah sosok yang mudah terombang-ambing oleh kekuatan sejarah hingga kemudian tersungkur begitu saja dalam gelombang tersebut dan terdampar di pantai peradaban. Tokoh-tokoh Pram adalah manusia yang memiliki daya untuk menolak dan resisten. Aksi-aksi yang muncul dalam dari dalam tubuh sejarh itu, ditanggapi dengan reaksi yang cerdas dan bernas. Seringkali mereka melibatkan diri pada yang ada (das sein), yakni segala fenomena sosial yang melingkupi tokoh-tokoh itu, dan yang seharusnya (das sollen), yakni suatu kondisi yang diidealkan tokoh-tokoh protagonisnya. Kendati dalam kebanyakan karyanya, tokoh-tokoh tersebut selalu mengalami kekalahan eksistensial.
baca selengkapnya…










