Sumber: edisantana.blogspot.com

Sumber: edisantana.blogspot.com

Menyimak pemberitaan soal penegakkan hukum di tanah air akhir-alhir ini, keadilan tampak nyata sekali hanya sekedar slogan. Rakyat kecil dengan kesalahan kecil diproses secara hukum, tapi jika elit yang melanggar, tak ada gerak sama sekali. Salah satunya Rekening Gendut Perwira Polisi yang sempat menghebohkan tanah air pada medio 2010 lalu. Niatan Polri untuk membongkar kasus yang diduga melibatkan petingginya tersebut tampak tidak ada sama sekali. Bahkan, putusan Komisi Informasi dianggap angin lalu. Bagaimana dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)?

Aksi dari KPK tak kunjung ada terkait rekening gendut yang diduga milik para petinggi Polri ini. sampai saat ini, belum tampak juga aksi nyata lembaga anti-korupsi ini. Mungkin mereka melakukan penyelidikan secara diam-diam. Barangkali ini yang bisa jadi sedikit penenang di tengah kekalutan penegakkan hukum di tanah air yang karut-marut. Namun, dugaan tersebut sudah lama muncul. Sekiranya perlu bagi kita semua untuk memberi dukungan kepada KPK untuk ambil alih dugaan korupsi tersebut.
baca selengkapnya…

Revolusi audio digital pada awal 1980-an telah mengubah drastis industri musik. Saat ini kebanyakan bunyi-bunyi rekaman yang kita dengar telah berubah menjadi bit-bit elektronik. Mereka berseliweran di dunia maya dan siap diunduh – baik legal maupun ilegal – dengan cepat.

Berikut ini adalah beberapa fenomena yang tercatat dalam sejarah musik digital. Apakah mereka menghancurkan industri musik? Atau justru menyelamatkan?

Andalah yang menentukan.
baca selengkapnya…

Proses pemeriksaan DNA Tan Malaka masih berjalan. Akankah sisa-sisa kerangka Tan Malaka dimakamkan di Kalibata sebagai pengakuan dari pemerintah?

TAN MALAKA merupakan tokoh antikolonial yang mobilitasnya sangat tinggi. Selama 30 tahun dia melalang-buana, dari Pandan Gadang (Suliki) hingga Surabaya, dari Penang hingga Amsterdam. Dia selalu waspada karena bertahun-tahun jadi buronan intel. Polisi kolonial mengganjarnya dengan sebutan “jago menghilang”.

“Rupanya setelah meninggal pun kemampuan menghilang Tan Malaka tak berkurang sehingga DNA-nya sulit dicari,” canda sejarawan Asvi Warman Adam dalam konferensi pers laporan hasil pemeriksaan DNA atas kerangka yang diduga Tan Malaka di Wisma Shalom, Jakarta Pusat (9/1). “Dia tokoh yang mempunyai reputasi internasional, sehingga tampaknya DNA-nya pun harus diperlakukan secara internasional.”
baca selengkapnya…

Pria yang kuburannya digali di Selopanggung, Kediri memiliki DNA yang positif identik dengan keluarga Tan Malaka.

HASIL penyelidikan DNA (deoxyribose nucleic acid) di sebuah laboratorium di Korea Selatan menunjukkan bahwa kerangka tulang yang digali di sebuah makam di Desa Selopanggung, Kediri, pada 12 November 2009, adalah Tan Malaka “mendekati kebenaran”. Saat ini pemeriksaan sisa sampel kerangka di Selopanggung sedang dalam proses pemeriksaan analisis LCN (low number copy) sebuah metode baru ekstrasi sampel DNA.

Menurut Tim Identifikasi Tan Malaka, dokter spesialis forensik Jaya Surya Atmadja dari Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk mendapatkan hasil seratus persen bahwa DNA tersebut adalah Tan Malaka masih harus mengikuti perkembangan teknologi DNA yang semakin maju.
baca selengkapnya…

Spesies yang Terancam Punah

Posted: 7 Januari 2012 in Arbiter
Tag:, , ,

World Wildlife Fund (WWF) telah menetapkan 10 spesies terancam punah yang memerlukan prioritas perhatian dan perlakuan dari semua pihak. Bukan cuma disayang, para spesies ini dan satwa lainnya harus dilindungi, tidak boleh diburu atau dibunuh dan tidak dirusak habitat tempat mereka hidup. Spesies apa saja?

1. Macan Tutul Salju

Macan tutul salju jumlahnya diperkirakan mencapai 6.000 ekor yang tersebar di 12 negara. Namun jumlahnya terus berkurang karena diburu demi bulunya yang dijadikan bahan baku industri mode. Pemanasan global juga ikut memengaruhi habitat mereka tinggal. Macan tutul salju adalah hewan yang indah dan memiliki daya jelajah luas. (Andy Rouse/WWF/Yahoo! News)
baca selengkapnya…